CITATAH – Jika berjalan bersama teman teman yang kelahiran tahun 90 akhir, siap-siap mengguman lirik Bruno Mars. Perjalanan Jakarta-Citatah dilalui dengan playlist yang diambil dari smart phone teman se-mobil. “That’s what I like, that’s what I like,” begitu Bruno dalam refrain-nya.

Dalam penggolongan generasi, saya tidak kebagian. Bukan masuk Baby Boomers, yang lahir setelah PD II, bukan juga Generation X yang lahir 70an. Cukup tua untuk tidak kenal Ed Sheeran, dan masih muda untuk bisa menikmati Frank Sinatra. Teman-teman penggemar Mars, setengah lebih usia saya, disebut generasi Milenial. Kami akan panjat tebing di Citatah.

Citatah, Tebing 48 tempat Komando Pasukan Khusus berlatih daki serbu. Ketika Gladian (pertemuan pencinta alam) diselenggarakan pertama pada 1975, Tebing 48 dipilih jadi tempat berlatih rappeling. Dalam kajian sejarah panjat tebing, ada yang mengatakan Gladian ini yang awal tahun 70an menjadi detik mula panjat tebing. Ini artinya kami akan datang ke tanah suci panjat tebing Indonesia, sacred grounds.

Memasang pengaman sisip dengan bertumpu pada tangga tergantung di pengaman. Panjat artifisial menambah ketinggian dengan bantuan alat. (adiseno)
Memasang pengaman sisip dengan bertumpu pada tangga tergantung di pengaman. Panjat artifisial menambah ketinggian dengan bantuan alat. (adiseno)

Bagi saya, ajakan teman teman Milenial ini kesempatan untuk tafakur alam di tanah suci. Sudah lebih 30tahun saya dan panjat tebing bersentuhan. Terakhir saya panjat tebing ke Carstensz Pyramid pada 2015. Sebelumnya pada 2012, saya pernah diminta klub universitas saya untuk menjadi kepala pelatih panjat tebing pada rekrutmen anggota. Kala itu kami adakan asesmen pelatih panjat tebing, empat orang lulus dengan nilai sempurna, dan saya kepala mereka, hanya lolos di peringkat bawah mereka.

Manusia berencana, alam menjawab. Niat leyeh-leyeh, ditangguhkan untuk membantu teman-teman penggemar Mars. Ternyata mereka tidak berlatih sport climbing, melainkan tradisional climbing.  Berlatih memasang pengaman panjat mulai dari bawah hingga ke puncak. Seni menumpuk pasak tebing. Menyelipkan pengaman sisip. Kombinasi pengaman sisip dan pasak, hexentric  dengan sling di rekahan horizontal. Pengaman pegas ini yang lebih mereka gunakan. Mungkin karena mudah dan memiliki semacam tombol untuk mengoperasikannya. Flexible friends nampaknya lebih dekat ke era gadget dunia Milenial.

Dari tiga jalur panjat tradisional dan satu jalur panjat artifisial, tidak satu pun mereka memasang piton. Apa yang menimbulkan kepercayaan bagi saya, piton yang tertancap dengan denting yang nyaring, mungkin dilihat sebagai artifak arkeologi dari masa perunggu.

Hebat, dari puluhan pengaman sisip, pegas dan alam, yang dipasang hanya dua yang terlepas dari rekahannya. Apa yang menjadi perdebatan di era saya, antara clean climbing dan munculnya sport climbing yang intinya menggunakan pengaman bor, tidak terjadi.

Clean climbing lahir di Yosemite Valley dengan pemanjat Yvonne Chouinard, Royal Robbins, dan lainnya, membuka jalur big wall yang panjangnya ratusan meter. Awalnya mereka menggunakan pasak tebing, yang ketika dicabut kerap merusak keaslian rekahan alami. Sisi rekahan pecah. Kemudian mereka inovatif, mur berbagai ukuran dari bengkel diambil dan diimbuhi tali. Mur ini disisipkan di rekahan, tali ikal (loop) digantungkan karabiner, untuk menyangkutkan tali hidup. Ini cikal bakal pengaman sisip.

Robbins dan kawan kawan pun mengulang jalur panjat mereka dengan hanya menggunakan pengaman sisip yang tidak berbekas. Lahirlah clean climbing yang banyak dianut, termasuk oleh senior di klub universitas saya.

Sementara sport climbing,  berkembang dengan pengaman bor. Pengaman yang sekali terpasang pasti mengubah tebing. Sisa lubang kecil dibantah tidak berpengaruh bagi tebing ratusan meter. Nyawa pemanjat yang diamankan jauh lebih berharga dari kerusakan yang kecil.

Ini perdebatan basi di zaman Milenia. Sport climbing sudah meraja lela. Kemampuan panjat bertambah tinggi dan berkembang pesat karena jalur tersulit adalah jalur sport climbing.

Ketika teman-teman Milenial menjadi retro, mereka butuh orang tua untuk membuka lembar sejarah. Hari pertama kami memanjat hingga teras. Esoknya teman-teman meniti fix rope dengan ascender ke teras.

Satu tim melanjutkan terus hingga puncak tebing. Tali pengaman tidak cukup panjang, pemanjat ketiga membawa tali tambahan. Dan hujan petir mengiring mereka. Sementara di teras berbagai jalur tetap yang terpasang dikemas pulang.

Dalam perjalanan pulang saya ditanya. Apa eksplorasi untuk zaman sekarang, zamannya mereka para Milenial.

Saya pun teringat pada Bill Tilman, pendaki idola saya. Mulai mendaki seusai PD I pada usia 35tahun. Ia menjelajah Kilimanjaro, Mount Kenya dan Ruwenzori di Afrika. Kemudian ke Himalaya, menjadi pendaki gunung 7.000meter pertama bersama Noel Odell, pada 29 Agustus 1936 ketika mencapai puncak Nanda Devi (7.816m) di Garhwal Himal, India. Bill Tilman dikenal banyak membuka kawasan pendakian baru, termasuk jalur pendakian sisi selatan Everest. Ia meninggal saat berlayar menjelajah wilayah kutub. Kapalnya hilang, dan ia seperti gaib, tidak pernah ditemukan.

Di zaman satelit GPS, aplikasi Google Map, tidak ada lagi yang bisa di eksplorasi seperti zamannya Tilman. Eksplorasi beralih ke jagad alit, berlari ultra ratusan  kilometer, koleksi puncak 8.000meter ditambah titik kutub bumi. Dan, yang masih dalam angan-angan dan baru pada tahap uji coba, perjalanan angkasa luar. Menjelajah hingga Mars.

Gold jewelry shining so bright

Strawberry champagne on ice

Lucky for you, that’s what I like, that’s what I like

Lucky for you, that’s what I like, that’s what I like

Gemerlap lirik ceria dengan irama dansa, buat saya tidak cocok Bruno Mars dengan panjat tradisional dan artifisial. Terlalu melambai, tidak ada keteguhan. Kawan-kawan berlatih saya dulu diiringi Axl Rose dan Slash, dari Gun’s n Roses. (adiseno)

Foto utama: Pemanjat Milenial berlatih artifisial di Tebing 48, Citatah, Jawa Barat pada Minggu (2/4). (adiseno)

Similar Posts