Matahari pagi mulai bangun dari tidurnya. Membasuh kami dengan pancaran sinar hangat sambil perlahan mengusir kabut yang sedari pagi menyelimuti lembah kasih yang begitu di cintai Soe Hoek Gie, Lembah Mandalawangi.

Tak ada misi khusus selain untuk rehat sejenak dari padatnya aktivitas, menikmati indah dan damainya suasana Gunung pangrango, dengan titik puncaknya di 3019 mdpl. Lembah Mandalawangi sendiri terletak kurang lebih 100m dari puncak Pangrango. Tak sampai 15 menit, perjalanan turun dari puncak Pangrango berujung pada sehamparan bunga edeilweis (Anaphalis javanica) yang sedang mekar, kala itu.

Luasnya hanya sekitar 5 hektar, tidak seluas Alun-Alun Suryakencana, padang bunga edeilwess lainnya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang memiliki luas hampir sepuluh kali lipatnya. Gemericik aliran air mengalir membelah hamparan padang.

Mendirikan tenda baiknya dibalik rerimbunan pohon saja, karena saat malam tiba, udara yang terasa dingin bukan main. Beruntung sekali pendakian yang dilakukan pada musim kemarau. Panasnya matahari setidaknya dapat mengurangi udara dingin lembah. Pemandangan yang tersaji sungguh mempesona. Sesekali
awan gelap menutupi pancaran matahari, saat turun hejan, tercium aroma hutan hujan tropis yang menguak dari tanah-tanah yang basah.

Mandalawangi memang sepi. Tak banyak yang tertarik untuk bermalam disini karena jalur menuju puncak Pangrango dianggap kurang bersahabat.
Pangrango yang dingin dan sepi, memliki magnet tersendiri yang terpatri dalam diri saya. Sekali kesana, seolah terpanggil untuk kembali. (sho)

 

foto utama : dok. Mapala UI

Similar Posts