BANDUNG – Pelari trail ultra marathon Hendra Wijaya, Minggu (20/3) pagi mengendarai sepedanya dari Kedung Halang Bogor hingga  Hotel Santika di tengah kota Bandung. Ia hanya butuh enam jam mengayuh sepedanya. “Saya lewat jalan kecil, macet.” Ungkapnya menyiratkan ia seharusnya lebih cepat lagi dari catatannya. “Dua kali ke Bandung lewat jalan kecil, beda-beda rutenya.”

Bagi pelomba jarak jauh, kecepatan tempuh menjadi topik utama. Kala berlomba, mereka bukan tanding melawan sesama pelomba, tetapi mengejar cut off time. Waktu saat panitia menghentikan layanannya, jadi pelari harus stop dan diangkut ke finish. Hendra hafal jarak tempuhnya, 124kilometer. Itu pun ia tidak langsung ke tujuan dari arah barat melainkan melingkar ke selatan Bandung.

Hendra_WijayaKetika ditemui jelang petang Hendra Wijaya yang mengenakan celana pendek dan kaos olahraga berlambang lengkung kelihatan segar. Ia bercerita tentang rencananya berlatih. Tentang Trans Sumatera, lari bersepeda di Sumatera sebagai ajang latihan untuk mengikuti lomba Grand Raid Pyrenee, Spanyol.

Setengah berbisik Hendra menceritakan latihannya mencakup renang, karena ia tertarik pada ultra triathlon. Berenang pun 3,8kilometer jaraknya.

Satu yang menjadi perhatian saya adalah pendakian Hendra Wijaya ke Carstensz Pyramid (4.884m) Ia jalan dari Sugapa melalui Ogimba ke kaki Carstensz. Saking cepatnya, Hendra pada perjalanan berangkat meninggalkan rekan-rekannya Rahim ABS, Hendricus Mutter, Nefo Ginting dan para porter. “Saya nggak tahu jalan, jadi saya cari sendiri aja,” ujarnya dengan aksen Sunda yang kerap kental.

Akibatnya Hendra beberapa kali terjerembab batu. Ia baru berhenti ketika sudah beberapa kali terjatuh. Hendra tidak berhenti ketika ia melihat sekelebat bulat sinar yang seakan melayang. “Saya pikir kunang kunang koq jaraknya sama?” lanjutnya. Ketika ia mendengar lolongan hewan, ia menyadari bahwa itu adalah mata anjing. Mungkin serigala. Hendra pun berlari tambah kencang.

Kembali terjebak, jatuh di bebatuan, akhirnya Hendra memutuskan bersandar saja di dinding. Bertahan menahan dingin di ketinggian 4000meter lebih. Sejumput kurma bawaannya ia habiskan sekaligus. Ini untuk memberinya panas tubuh di kawasan yang cuacanya bisa sedingin kutub.

Paginya ketika terang Hendra melihat puncak-puncak salju. Ia pun memutuskan untuk terus bergerak ke arah gunung, walau teman-temannya tidak nampak juga. Petangnya ketika ia sudah melihat arah ke gunung yang jelas ia kembali ke titik awal, dan tidak lama kemudian rekan-rekan mendakinya pun muncul. Mereka ketinggalan hampir satu hari.

IMG_20160320_164637Para portir yang mengiring menjelaskan bahwa mata satwa yang dilihatnya, dan kelebat tubuh hewan putih adalah serigala, Dan ceruk batu tempatnya bersandar adalah tempat satwa liar ini membuang tulang belulang, diantaranya juga tengkorak manusia. Sekawanan pendaki dan pelari ultra ini pun melanjutkan pendakian ke Carstensz hingga puncak.

Saat pulang Hendra membuktikan dirinya lagi. Ia dari jelang siang hingga malam lari menuju kampung Ogimba. Ketika laporan tentang jalur ini dituliskan Peter Boardman almarhum pendaki Inggris terkemuka era 80an, ditempuhnya dalam beberapa hari. Saya pun pernah menjalani rute ini selama dua malam.Hendra Wijaya menempuhnya hanya dalam hitungan jam. Ia pun lanjut ke Sugapa, terbang keluar Papua hingga Surabaya dan semalam saja di Bogor untuk terus pergi mendaki Elbrus di Rusia.

Bersepeda ke Bandung selain latihan, pun Hendra sekaligus menemui Nurhuda, salah seorang pendaki Seven Summit  dari Indonesia. Hendra minta informasi untuk persiapannya mendaki gunung manca negara. Mendengar mereka berbicara, kesan saya tidak ada orang yang saya temui yang se-fokus Hendra. Bahkan ketika kami bersama ke Jakarta, saat saya tanyakan apakah ia suka mendengarkan musik sambil lari, karena saya sedang menyetel radio dan mengatur volume, memperkirakan apakah ia suka atau tidak, Hendra bilang ia terganggu dengan earphone, maupun headset di kepalanya. Ciri fokus seorang raksasa mental. Lari ratusan kilometer membelah alam, bukan hanya menuntut fisik, tetapi lebih lagi menguras mental. (adiseno)

Similar Posts