JAKARTA – 25 April 2015 gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Nepal. Lebih dari 8.800 orang meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, dan 2.500 lebih rumah rusak, serta longsor salju di Basecamp Everest. Saat gempa sedang mengguncang, Pasang Lhamu sedang meminum teh di Gorak Sherp, sebuah desa yang berada sekitar satu jam perjalanan dari Everest Basecamp. Kala itu ia bersama client asal Amerika, Christopher Wynne, yang ia pandu menuju Lobuche peak setinggi 6.119m dan seorang teman Sherpa perempuan yang juga menjadi temannya ketika mereka berdua menjadi wanita Nepal pertama yang menginjakkan kaki di puncak K2, gunung paling berbahaya di dunia.

pasang-summit-k2-flag-nepal_94046_600x450Setelah gempa berhenti, Pasang Lhamu segera membentuk tim dan bersiap menuju Everest Basecamp untuk menolong mereka yang terkena longsor salju. Setelah gagal mencapai Everest Basecamp karena gempa susulan, ia kembali ke Kathmandu, kota tempat tinggalnya, memastikan sang suami, Tora Akita baik-baik saja. Setelah itu ia dan suami terus memberikan bantuan kepada korban gempa dengan memanfaatkan jaringan teman di seluruh dunia yang ia punya serta menceritakannya di Facebook pribadi miliknya sehingga makin banyak yang mengapresiasi dan turut membantu.

Pemberian bantuan kepada korban gempa hanya merupakan satu dari sekian banyak hal luar biasa yang dilakukan oleh Pasang Lhamu Sherpa Akita. Selain memiliki sisi kemanusiaan yang sangat besar, ia juga memiliki prestasi yang mentereng di bidang pendakian gunung. Pada usia 19 tahun, perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Lukla, gerbang utama menuju kawasan Everest, mengawali karier dengan menjadi siswa pada Khumbu Climbing Center (KCC), sekolah pertama di nepal untuk mencetak instruktur pendakian secara formal bagi Nepal.

“Ketika saya bertemu dengannya pada tahun 2007 di Punggung Utara Everest, nampak sangat mudah baginya. Saya yakin dia memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan.” Ungkap Conrad Anker, pendiri KCC.

Hal ini terbukti ketika perempuan yang kehilangan kedua orang tuanya pada usia 15 tahun ini kemudian menjadi pemandu perempuan pertama dari Nepal. Ia juga berhasil menapaki atap dunia, Everest dan gunung paling berbahaya di dunia yaitu K2, serta gunung-gunung lainnya. Puncaknya adalah ia diganjar penghargaan People’s choice Adventurers of The Year 2016 oleh National Geographic Society.

Pasang Lhamu Sherpa Akita bak paket lengkap seorang petualang yang senantiasa berusaha menembus batas potensi manusia dan juga memiliki kepekaan seorang manusia yang sejati. Semua itu terasa lebih istimewa karena ia perempuan. Ya, dia melakukan semuanya di tengah pandangan hidup patriarki yang membelenggu dan mendobrak semua pandangan pesimis terhadap seorang perempuan untuk menjadi seorang petualang. (fir/ sumber: nationalgeographic.com)

Similar Posts