nurdin razak

CILIMUS – Nurdin Razak berperawakan jangkung kurus. Ia mengenakan kacamata dan pandangannya lurus menatap tajam. Senin, 25 September 2017, Nurdin Razak berada di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. Ia diundang sebagai narasumber untuk membekali pemandu eko wisata.

Saat berbicara aksen jawa timur jelas, dan ia bicaranya cepat, sesekali mengkoreksi kata-kata Jawa dengan bahasa Indonesia baku. Pemirsanya kali ini penduduk di kaki Ciremai yang lebih fasih Sunda. Nurdin Razak sudah belasan tahun menekuni eko wisata di Taman Nasional Baluran. Berawal sebagai dosen eko wisata yang melakukan eksekursi ke Alas Purwo, tetangga Baluran. Pertama pada 1996, ia kemudian kembali dan kembali lagi bersama para mahasiswa.

Selain mengajar, Nurdin juga memotret. Ia awali dengan kamera Ricoh dan lungsuran Nikon FT. Lensa standar, wide dan tele, serta zoom dimiliki pula. Modal yang cukup untuk menjalankan kegemarannya memotret alam dan satwa. Dosen, fotografer, dan keindahan Alas Purwo serta Baluran membuatnya memutuskan untuk menetap di Wonorejo, Banyuwangi. Desa yang bersebelahan dengan kawasan taman nasional, memberi kesempatan Nurdin dan keluarganya untuk mengembangkan rumahnya sebagai penginapan eko wisata.

Praktik eko wisata ini terus berkembang. Suatu ketika Nurdin mendapat kesempatan mengantar tamu untuk melihat satwa. Ia memotret sambil menyarankan tempat dan setting pemotretan. Lahirlah paket foto hunting. Pengalaman ini ia bagi bersama pada calon pemandu eko wisata di kawasan Gunung Ciremai.

Nurdin juga menjelaskan paket kerja sama dengan masyarakat desa. Memerah susu sapi, membersihkan kandang. “Penduduk ya senang, sudah dapat susu saya kasih 100ribu (rupiah),” ungkap Nurdin sekaligus menjelaskan paket memerah susu dan membersihkan kandang dijualnya Rp350ribu. Banyak macam kerja sama dengan masyarakat desa dijadikan paket wisata oleh Nurdin.

Trekking juga memilik tamu sendiri. Ia bahkan melatih anak muda desa, diantaranya seorang pemuda yang bermasalah hingga kerap diproses polisi. Nurdin memaksa berbahasa sebisanya pada pemuda yang tugasnya memandu trekking sekitar penginapannya. Namun trekking yang paling mahal, apalagi jika tamu menginginkan dirinya memandu, yakni memotret satwa.

Pernah Nurdin mengikuti jejak darah hingga menemukan anjing hutan sedang melahap kijang yang berhasil diburu. Jarak Nurdin dengan objek fotonya cukup dekat. “Aman, angin dari arah anjing hutan,” Nurdin mengingat. Ia pun asyik memotret, hingga terasa kakinya ada yang menyentuh. Ketika ia lihat ternyata anak anjing hutan. Ia pun memberi tanda mundur kepada tamunya. Perlahan lahan mereka mundur dan memang ternyata disekitar sudah ada beberapa anjing hutan yang memang biasa berkawan dalam berburu. (adiseno)

 

Similar Posts