“Saya hanya mengandalkan rasa cinta pada Gua.” Sesederhana itu alasan seorang Ridwan Nasrullah, memulai idenya. Pemuda asal Tasik ini mulai bergiat dibidang gua sejak tahun 2006. Tak hanya Hobi, rasa sukanya terhadap kegiatan ini mendorong keinginan untuk terus mengembangkan keilmuan terkait gua dalam bentuk aplikasi pendataan kawasan karst.

Pada tahun 2006, Ridwan bergabung dengan tasikmalaya Caving Community. Ia mulai mempelajari teknik-teknik penelusuran gua. Baginya, menelusuri gua mengajarkan ia untuk memperkuat intuisi, dari situlah kepekaan akan lingkungan sekitar terasah otomatis seiring bertambahnya pengalaman ketika memasuki gua.

“Karst merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Ketika rusak, ya sudah tidak dapat dikembalikan.” Tutur Ridwan mengenai hal yang mendasari idenya dalam pembuatan aplikasi ini.

Tampilan aplikasi karstKITA buatan Ridwan Nasrullah

 

“Pendataan gua sangat penting. Keberadaan gua berair dan sungai bawah tanah perlu dilindungi. Tapi karena saya tidak memiliki Handheld GPS, saya mendata menggunakan android.” lanjutnya.

Aplikasi pendataan karst ini diberi nama KarstKITA. Aplikasi ini tidak memerlukan GPS, Dengan menginstall di smartphone android, aplikasi ini sudah bisa melakukan pendataan. Selanjutnya, aplikasi ini akan mulai dikembangkan ke pemetaan gua dan interpretasinya.

Aplikasi ini digunakan untuk penyimpanan data penting terkait potensi kawasan karst dan gua. Bisa juga sebagai bahan pengajuan Kawasan ekosistem esensial (KEE) dari kawasan bentang alam karst (KBAK). Software trial ini bersifat umum, namun belum bisa masuk dalam google play store karena membutuhkan biaya lagi. Penggunanya masih sekitar anggota Tasikmalaya Caving Community dan Indonesian Speleological Society (ISS).

Fungsi karst sebagai mata air yang digunakan oleh masyarakat mempengaruhi segi perekonomian berkepanjangan. Ketika fungsi itu hilang, maka perekonomian terganggu dan berpengaruh pada kehidupan berkelanjutan. (sho) 

Similar Posts