don hasman

JAKARTA – Berambut putih berperawakan pendek dengan sepatu kets dan menenteng kamera. Tak hanya satu, biasanya minimal dua kamera. Demikianlah sosok Don Hasman biasa dikenal. Tak hanya menenteng kamera, biasanya Om Don—begitu biasa dia disapa—juga lincah melangkahkan kaki ke sebuah tempat untuk mengambil sebuah gambar. Usia pertengahan 70 tahun tak menghalangi langkah lincahnya melangkah ke tempat-tempat sulit.

Don Hasman adalah seorang fotografer. Salah satu yang paling dikenal di Indonesia. Bukan sekadar fotografer, ia adalah seorang etno-fotografer. Sebuah profesi yang hanya ditekuni oleh 700 orang di seluruh dunia. Ia memotret bukan hanya mengabadikan gambar untuk kepentingan profesional, tetapi demi sebuah kepentingan yang lebih besar: Ilmu Pengetahuan. Fotonya tak dijual sembarangan. Hanya untuk kepentingan kemajuan Ilmu Pengetahuan.

Kisah-kisah Don Hasman patut diketahui. Ia adalah orang Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di Basecamp Everest pada tahun 70an. Bukan hanya itu, ia juga pernah menjelajah Spanyol dengan berjalan kaki selama satu bulan. Ia juga menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai puncak tertinggi Afrika, Kilimanjaro bersama Rianto Wahyudi yang Mapala UI. Belum lagi kisah-kisahnya di pelosok negeri

Don HasmanUsia Om Don diabdikan untuk mengabadikan momen-momen yang oleh orang awam tidak pernah diperhatikan. Salah satu karya Don Hasman yang patut diapresiasi adalah buku kumpulan foto mengenai orang Baduy. Setiap orang pasti paham bahwa Baduy khususnya Baduy Dalam tidak menerima modernitas seperti kamera. Hanya Don Hasman yang bisa menembus ketentuan itu. Tentunya dengan menggunakan pendekatan yang khusus. Dia membutuhkan waktu selama 39 tahun untuk menyelesaikan buku kumpulan foto mengenai kelompok masyarakat baduy dengan judul Urang Kanekes.

Di tangan Don Hasman, fotografi menjadi tak hanya sekadar memotret. Seperti pemuda-pemudi yang berlomba memotret dirinya sendiri saat mencapai sebuah tempat tertentu. Fotografi adalah sarana belajar mengenai sebuah hal yang selama ini tidak tertangkap oleh mata manusia. Mata lensa harus membekukan momen agar ketika waktu sudah berjalan jauh, kita dapat menengoknya kembali dan mencocokkan dengan kenangan yang sudah tertumpuk waktu. (fir/ berbagai sumber)

Similar Posts