ueli steck

JAKARTA – Di usianya yang ke-40, Ueli Steck tutup usia. Kamis (4/5) lalu jasadnya dikremasi di Nepal dan sebagian abunya dibawa kembali ke tanah kelahirannya, Swiss. Ia wafat setelah terjatuh di Nuptse, Khumbu Himal. Saat itu ia melakukan aklimatisasi untuk percobaan rute Hornbein di West Ridge Everest pada Minggu, 30 April 2017.

Ueli Steck lahir 4 Oktober 1976 di Langnau im Emmental, Swiss. Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecilnya. Karirnya sebagai seorang alpinis dimulai saat berusia 17tahun. Usia 18tahun, ia mulai memanjat Eiger serta Bonatti Pillar di Mont Blanc.

Banyak yang terkejut dengan kepergian Ueli Steck yang tiba-tiba. Dengan jumlah rekor dan kemampuannya, sulit dipercaya Steck meninggal akibat terjatuh. “Siapapun yang pernah menyaksikan Ueli Steck di Eigerwand akan tahu bahwa dia selalu mengendalikan tindakannya. Dia selalu bergerak dengan presisi tinggi dan insting keamanan,” ujar Reinhold Messner dalam wawancara dengan Outside Online.

Eigerwand, sebutan untuk dinding utara Eiger, adalah lokasi Steck mencatatkan rekor speed pertamanya. Ia menghabiskan 3jam 54menit untuk memanjat tanpa tali. Pada 2008, ia menambah daftar rekornya dengan melakukan first ascent ke Teng Kang Poche (6.847meter) bersama Simon Anthamatten. Lalu Annapurna dari sisi selatan secara solo pada 2013. Dua perjalanannya ini membawa Ueli Steck mendapat pengahragaan Piolet d’Or, yang disebut-sebut sebagai penghargaan tertinggi di mountaineering untuk yang pertama dan kedua kalinya pada 2009 dan 2014.

ueli steck
Ueli Steck (kiri) bersama Ian Welsted dan Raphael Slawinski saat menerima penghagraan Piolet d’Or 2014. (sumber: chamonix.net)

Di 2015, Steck berhasil memperbaharui rekornya di Eiger menjadi 2jam 22menit 50detik. Juga di tahun yang sama, Steck berhasil menyelesaikan 82 puncak 4.000an meter dalam kurun waktu 61 hari. Perjalanan-perjalanan yang mengantarkannya mendapat National Geographic Adventurer Award 2015.

Namanya sudah masuk ke dalam daftar mereka yang berhasil mencapai puncak Everest tanpa oksigen tambahan. Steck melakukannya di 2012. Ia juga yang pada 2016, bersama partner pendakiannya David Gottler, menemukan jasad Alex Lowe dan David Bridges yang meninggal di Shishapangma pada Oktober 1999.

Bukan hanya dalam hal kecepatan, Ueli Steck juga dikenal gemar melakukan petualangan solo. Selain rekor pemanjatan Eiger secara solo, di 2005 ia pernah menjalani ‘Khumbu-Express Expedition’ secara solo. Dua diantaranya, Cholatse (6.440meter) dan dinding timur Taboche (6.505meter) adalah first ascent. Hal yang mengantarkannya menjadi satu dari tiga alpinis terbaik di Eropa versi majalah Climb.

Julukan ‘Swiss Machine’ datang untuk kegemilangan karir Steck dan rekor yang seakan tak pernah putus. Sayangnya, Steck sendiri tidak senang dijuluki ‘Mesin Swiss’. “Tidak ada orang di Swiss yang mengenal saya sebagai ‘Mesin Swiss’, dan itu bagus, karena saya tidak suka itu.” Menurutnya julukan itu akan dianggap sebagai hal tak menyenangkan oleh orang-orang Swiss.

Pun hingga wafat, julukan itu masih melekat. Rencana perjalanan terakhir Steck mendaki puncak Everest tanpa oksigen tambahan melalui West Ridge dan dilanjutkan menuju Lhotse belum pernah dilakukan siapapun sebelumnya. Jika berhasil, Ueli Steck menjadi yang pertama mendaki lewat rute ini. (uli/ berbagai sumber)

Foto utama: Ueli Steck di Everest, 2012. (sumber: Outside Online)

Similar Posts