tenzing norgay

JAKARTA – Projek mutakhir dari  Studio CGO adalah Everest ‘53. Everest pertama kali dicapai puncaknya pada 1953. Pendakian yang didokumentasikan dengan foto dan film seluloid ini menginspirasi dunia pada masanya dan sampai sekarang pun sudah ribuan yang mengikuti jejak Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Studio CGO berkedudukan di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), menspesialisasikan diri dalam pembuatan citra virtual reality (VR) topik sejarah untuk edukasi. Mereka telah menyelesaikan Flight, mengenai penerbangan perdana Wright bersaudara. Projek kedua yang masih berlangsung adalah Anne Frank, gadis Yahudi yang bersembunyi dari kejaran Nazi pada Perang Dunia II. Projek ketiga, Everest ’53 dimulai dari tahun lalu.

Pemirsa akan dapat melihat adegan dikreasi ulang kunci kejadian sejarah. Seakan pemirsa bisa kembali ke masa lalu dan bisa merasakan apa yang dialami Hillary dan Tenzing Norgay saat menjejakan kaki di titik tertinggi permukaan bumi.

tenzing norgay
Sutradara Danny Abrahams (kiri) memperhatikan Jamling Tenzing Norgay (tengah) memperagakan teknik pendakian yang sesuai.(digitaltrend.com)

Jonah Hirsch pendiri Studio CGO mengungkapkan kepada digitaltrend.com, “Kami terinspirasi oleh kedua tokoh ini dan sangat bergairah untuk bisa membagi kisah mereka secara mendalam dan menawan.”

Akurasi sejarah menjadi keutamaan dalam produksi. CGO dengan sutradara Danny Abrahms mengundang Peter Hillary dan Jamling Tenzing Norgay, keduanya putra masing masing pendaki perdana Everest. Putra Tenzing Norgay lainnya, Norbu yang juga presiden America Himalayan Foundation turut menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya pada produksi ini. Anak Hillary maupun Tenzing Norgay telah pula mendaki Everest. Mereka mencapai puncak dalam rangka peringatan 50tahun pendakian perdana, pada  2003. (ads)

Foto utama: Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, orang pertama mendaki Everest (8.848mdpl) diabadikan oleh CGO dalam citra Virtual Reality untuk pelajaran sejarah yang lebih akurat. (dailytelegraph.com)

Similar Posts