JAKARTA – Posisi Januari 2016 sebagai bulan dengan suhu panas paling abnormal sepanjang sejarah menurut NASA kini digantikan oleh Februari 2016. Pada Rabu (2/3/16), belahan utara bumi telah mencapai suhu rata-rata 20C untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah. Ini adalah batas temperatur yang dipercaya para ilmuwan sebagai tanda bahwa kenaikan temperatur global akan ‘berbahaya’.

surface_air_tempCatatan temperatur yang terus mengalami penurunan ini seringkali dikaitkan dengan fenomena El Nino yang disebut sebagai fenomena El Nino terkuat dalam sejarah. Namun, menurut Profesor Michael Mann, direktur Penn State Earth System Science Centre, El Nino hanya ‘bertanggung jawab’ untuk peningkatan suhu yang kurang dari 0,10C. Hal ini diungkap setelah dilakukan pengecekan pada catatan suhu global. “Dengan kata lain, kita menetapkan rekor pada temperatur global (pada 2015) bahkan tanpa bantuan El Nino,” tutur Mann.

Will Steffen, Profesor emeritus ilmu iklim di Australian National University dan seorang anggota di Dewan Iklim Australia, juga menyatakan bahwa penilaian terhadap El Nino dan efeknya pada temperatur global hanya mungkin terjadi jika fenomena tersebut telah selesai terjadi. El Nino kini tengah mencapai puncaknya, dan diperkirakan berakhir pada kuartal kedua tahun ini. Tapi, ia menyetujui jika siklus El Nino yang terjadi sebelumnya bisa menjadi panduan yang tepat untuk menentukan efek yang akan terjadi.

“Intinya adalah kontribusi El Nino dan pola angin saat ini terhadap kondisi iklim global yang sangat hangat dalam beberapa bulan terakhir relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan temperatur global yang terjadi sejak masa pra-industri” jelas Jeff Knight dari Met office’s Hadley Centre. Tumpukan catatan suhu yang dimiliki sejak awal abad juga menunjukkan perubahan yang konstan. Namun, 1998, 2005, 2010, 2014, dan 2015 menjadi tahun-tahun yang memecahkan rekor terpanas.

Selain menjadi sinyal yang buruk bagi perubahan iklim jangka panjang, perubahan suhu yang terjadi pada bulan dan tahun juga memiliki dampak langsung dan nyata. “Ini (peningkatan suhu) membuat gelombang panas menjadi lebih buruk. Hal ini cenderung menyebabkan kondisi kering di dunia. Hal ini diperparah oleh El Nino.” kata Steffen. (uli/sumber: theguardian.com)

Similar Posts