mengenali gejala AMS

JAKARTA – Pengunjung Deep Extreme 2017 pada hari terakhir mendapat satu pelajaran penting. Pasalnya, satu sesi bincang-bincang membahas tuntas tentang ‘hantu’ di ketinggian yang sering mengintai pendaki, yakni penyakit ketinggian atau high altitude sickness. Banyak pendaki tak paham tentang hal satu ini. Padahal faktanya, penyakit ketinggian adalah pembunuh nomor satu di ketinggian dibandingkan dengan yang lain.

Dr. Lelitasari sebagai pendiri 4Life First Aid Care Product banyak menjelaskan tentang jenis-jenis penyakit ketinggian yang biasanya mengintai pendaki. Ia menjelaskan soal hipotermia yang terhitung paling banyak terjadi di Indonesia karena gunung di Indonesia masih belum masuk kategori ‘tinggi’. Dijelaskan juga soal Acute Mountain Sickness (AMS) yang menyerang di gunung tinggi, hingga tingkat lanjutnya yaitu High Altitude Cerebral Edema (HACE) dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE), masuknya cairan dalam bagian tubuh (otak atau paru-paru) karena perbedaan suhu.

acute mountain sickness
Lembar Lake Louise Score.

Dari sudut pandang pendaki, Ripto Mulyono, Veronica Moeliono, dan Ami Kadarhutami bercerita tentang kasus nyata yang terjadi beserta penanganan yang dilakukan. Seperti hipotermia yang harus ditangani cepat untuk mengembalikan suhu tubuh. Makan, menjaga kesadaran, hingga masuk ke dalam kantung tidur adalah berbagai tindakan yang dapat dilakukan, mereka melanjutkan. Tak hanya untuk orang yang terserang penyakit ketinggian, sudut pandang rekan sependakian pun dijelaskan. Seperti terus mengajak berbincang teman yang terkena hipotermia untuk memastikan tingkat kesadarannya masih dalam taraf normal.

Poin penting dari penyakit ketinggian, menurut para pembicara adalah justru mengenali gejala tanda awal penyakit ketinggian. AMS dapat dideteksi dengan menggunakan Lake Louis Score yang dapat mengukur tingkat penyakit yang dialami, bahkan hingga rekomendasi untuk tidak melanjutkan perjalanan karena satu-satunya penanganan yang tepat dengan cara turun. Sementara hipotermia dapat dilihat dari tingkat fokus pendaki saat berjalan. Jika sudah ada tanda-tanda seperti sering jatuh, berjalan linglung, hingga meracau, hampir dapat dipastikan hipotermia sudah mulai datang. Dengan mengenali gejala tanda awal ini, tindakan yang cepat dan tepat dapat diambil guna menghindari resiko yang lebih besar. (fir)

Similar Posts