JAKARTA – Kabar kecelakaan seorang jurnalis ketika melakukan tugas segera tersebar pada Senin (7/3). Arif dan Jongki, Wartawan Majalah Gatra dan lima mahasiswa UMS sedang melakukan penelusuran gua di Luweng Jaran, desa Jlubag, kecamatan Pringkuku, Pacitan. Tujuan mereka adalah mengabadikan keindahan dalam gua yang berada di kawasan Geopark Gunung Sewu ini.

Foto : infopacitan.com
Foto : infopacitan.com

Pukul 13.00 WIB, enam orang hendak masuk ke dalam gua menggunakan Single Rope Technique (SRT). Arif yang jurnalis, gugup pada saat turun di seutas tali. Alat yang seharusnya dipegang untuk menahan laju badan terlepas, Arif jatuh merosot hingga dasar gua dari ketinggian kurang lebih 25meter.

“Saat ini Arif tengah dievakuasi dalam keadaan sadar oleh BPBD Pacitan menuju rumah sakit.” Menurut Murseto dari MDMC Jateng dalam aplikasi pesan singkat Whatsapp. Jatuh dari ketinggian lebih dari 20 meter, cedera yang paling mungkin adalah pada tulang ekor.

Luweng Jaran merupakan labirin bawah tanah tersembunyi di Pacitan. Baru dilaporkan pada 1984 oleh masyarakat setempat. Namun, baru di jelajah pertama kali oleh ekspedisi Anglo-Australian Speleological Expedition pada 1987. Setiap ekplorasi menghasilkan fakta baru tentang gua yang tidak diperuntukkan untuk umum ini.

Pertama kali di masuki, panjang gua ini terdata sejauh 11km. Pada eksplorasi kedua, 1992, panjang yang terdata hingga 19km dan terhubung hingga Luweng Punung Plente, salah satu daerah di Pacitan. Pada penelusuran yang dilaksanakan di 2002, panjang gua yang dijelajah mencapai 25km.

Keunikan dalam gua Luweng Jaran dapat dipahami sebagai daya tarik Arif, Jongki, dan lima mahasiswa UMS Solo tadi ingin memotret lorong-lorong labirin bertingkat dalam gua terpanjang di Jawa ini. Selain stalagtit dan stalagmit yang tersaji, tempat menghilangnya sungai permukaan ke dalam gua pada pintu masuk dan aliran sungai dalam gua adalah hal yang sangat penting untuk diabadikan. (fir)

Similar Posts