masa pendidikan pencinta alam

JAKARTA – Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) akan menerapkan kebijakan baru bagi pengunjung pada 2017. Kebijakan tersebut adalah pelarangan air minum dalam kemasan (AMDK) sekali pakai dan tisu basah bagi pengunjung yang berkunjung ke kawasan tersebut. Kebijakan ini diambil menyusul banyaknya sampah yang terdapat di kawasan TNGGP. Dan dua sampah tersebut adalah yang paling mendominasi di antara banyak sampah yang lain.

Dalam satu tahun, pengelola mengangkut sebanyak 500kg sampah dan 1,5ton kotoran manusia dari kawasan TNGGP. Hal ini membuat khawatir karena kawasan TNGGP termasuk daerah penyangga bagi sejumlah daerah seperti Bogor, Cianjur, dan Jakarta. Daerah tersebut sangat bergantung pada kelestarian TNGGP, utamanya soal sumber air.

Namun, kebijakan ini harus dilihat kembali. Apakah pihak pengelola sudah cukup bijak dalam mengambil kebijakan? Pasalnya, sampah adalah sesuatu yang tak dapat dihidari oleh manusia. Semua yang digunakan oleh manusia pada akhirnya akan menjadi sampah. Penggunaan AMDK sekali pakai dalam pendakian dinilai menjadi jalan praktis karena mudah didapat, ukurannya ideal, serta murah. Sementara tisu basah banyak digunakan untuk membersihkan diri selama pendakian atau untuk membersihkan sisa buang air besar selama pendakian.

Menengok Tetangga

kebijakan TNGGP
Gunung Kilimanjaro, Afrika (dok. fit@fifty).

Pihak TNGGP mengatakan bahwa kebijakan ini diambil dengan mengambil contoh dari pengelolaan Taman Nasional Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika. Tempat tersebut memang terkenal bersih dari sampah. Namun, selayaknya pihak TNGGP tidak sebatas melihat buah kebijakan yang diterapkan di tempat tersebut, tetapi juga harus melihat aspek lain seperti pengelolaannya.

Di Kilimanjaro, ada kebijakan untuk tidak memperbolehkan AMDK. Namun, hal itu diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Di Kilimanjaro, pengunjung tidak boleh buang air sembarangan, bersamaan dengan itu disediakan pula tempat buang air besar dengan fasilitas toilet duduk yang terawat. Ada pula fasilitas pondok (hut) bagi pendaki agar tidak bermalam di sembarang tempat. Semua kebijakan itu juga sejalan dengan menggandeng pemandu sebagai ujung tombak penerapan disiplin dalam pendakian.

Tak jauh dari Indonesia, di negeri tetangga Malaysia, ada pula hal yang dapat dicontoh dalam mengelola kawasan konservasi. Yang paling dikenal tentu pengelolaan Gunung Kinabalu. Di sana, pelarangan membawa AMDK dan sejumlah barang lain yang berpotensi menyebabkan banyak sampah diimbangi dengan penyediaan fasilitas memadai dan penerapan disiplin yang benar. Di setiap pos terdapat pondok lengkap dengan kursi, toilet, informasi kawasan, tempat mengisi air, bahkan tandu. Selain itu, pengelola kawasan juga menerapkan disiplin yang tinggi.

Mitra penerapan disiplin ini adalah petugas gunung yang berada di setiap pos. petugas gunung ini bertugas untuk siaga, mendata pendaki, dan memberikan kartu identitas bagi setiap rombongan, serta mengawasi rombongan pendaki yang dibawa oleh pemandu. Sanksi sudah menunggu bagi pemandu maupun pendaki yang melanggar. Termasuk soal kuota pendaki per hari yang benar-benar dibatasi.

Kebijakan yang Harus Bijak

Selayaknya, sebuah peraturan harus melihat keseluruhan persoalan. Pelarangan harus disertai solusi. Buang hajat, membersihkan diri, dan minum adalah aktivitas alamiah manusia. Jika upaya untuk melakukan hal yang alamiah ini dilarang, bukan tidak mungkin masalah akan semakin pelik karena akan terjadi kucing-kucingan antara petugas dan pendaki. Kotoran manusia semakin berserakan di sembarang tempat, dan sumber-sumber air akan semakin tercemar karena semakin banyak yang menuju ke sana.

kebijakan TNGGP
Tumpukan beragam jenis sampah di kawasan TNGGP.

Melihat pengelolaan di tempat-tempat lain, pihak pengelola TNGGP dapat belajar dengan cara menyediakan fasilitas yang layak bagi pengunjung. Fasilitas toilet dapat disediakan di setiap pos atau beberapa pos. airnya dapat memanfaatkan sumber air yang ada dan disalurkan ke pos agar sumber air yang asli tetap terjaga. Pengelola juga dapat memanfaatkan air hujan untuk menyediakan air bersih yang sudah memanfaatkan teknologi penyaringan. Begitupun dengan air minum. Sementara untuk meredam kebisingan pengunjung kawasan, dapat disediakan area khusus untuk bermalam. Jika tidak ingin membangun sebuah bangunan, tentukan saja area di mana pengunjung boleh bermalam agar satwa di kawasan tidak merasa terganggu.

Namun, yang terpenting tetaplah kedisiplinan. Tak ada artinya sebuah kebijakan tanpa kedisiplinan. Pembatasan pengunjung akan menjadi omong kosong mana kala ada pihak yang bermain dengan melonggarkan kuota. Sudah seharusnya semua pihak bersikap disiplin perihal semua kebijakan pendakian. Pengelola juga dapat menggandeng pemandu serta warga sekitar sebagai mitra penerapan disiplin sekaligus ujung tombak dari segala kebijakan. Sebab merekalah yang terdepan dalam interaksi dengan pengunjung. Pada akhirnya, setiap kebijakan harus memenuhi sikap bijak. Seperti kata dasar dari kebijakan itu sendiri. (firman arif)

Similar Posts