kain tenun timor

JAKARTA- Masyarakat Mollo menghentikan tambang marmer di bukit Naitapan dan bukit Naususu, Timor. Gerakan panjang 13tahun ditandai menenun kain didepan tebing. Kini waktunya merayakan dan 8April mendatang masyarakat Mollo berprosesi diantar dua bukit di wilayah adat yang mereka selamatkan. Pencinta alam Mahitala Universitas Parahyangan akan serta dengan tim panjat tebing.

Wajah masyarakat Mollo dikenal dunia melalui Mama Aleta. Aleta Baun istri seorang guru, ibu dari anak anak, dan perempuan yang kenal adat Timor. “Marga marga orang Mollo berasal dari gunung batu, ” ungkapnya kepada Siti Maimunah penulis yang merekam kiprah Mama Aleta.

Orang Timor atau Atoen meto memiliki Kanfatun, nama yang diperoleh dari batu tempat leluhur berasal dan merupakan akar dan batang dari pohon keluarga. Ritus adat kami ada di sekitar gunung batu, kayu atau hutan dan sumber air. Begitu Situ Maimunah merekam ucapan Mama Aleta. Aleta Baun memilih tenun sebagai jalan perjuangannya karena mauk, selimut laki laki, dan tais, sarung perempuan, adalah identitas orang Timor.

kain tenun timor
Mama Aleta dan Felicia Tjandra (kiri) dalam peluncuran awal Mama Aleta Fund dengan latar tebing Naususu, sisa tambang marmer yang berhasil diusir masyarakat Mollo dari tanah adat mereka. Tebing dapat dimanfaatkan masyarakat seerti untuk panjat tebing yang akan dilakukan Tim Mahitala yang diwakili Felicia (adiseno)

Perjuangan yang mengalami semua tekanan dan ancaman ini berhasil. Bahkan lebih dari menyelamatkan alam dan mempertahankan adat, Mama Aleta meraih  Goldman Price Award, penghargaan lingkungan hidup di San Fransisco, Amerika Serikat. Ia juga pada 2016 memperoleh Yap Thiam Hien Award, penghargaan perjuangan hak azasi manusia. Semua didedikasikan menjadi Mama Aleta Fund, lembaga pendanaan untuk perjuangan masyarakat dalam hak perempuan, kelestarian alam dan pendidikan.

“Kami ingin menunjukan batu masih bisa bermanfaat untuk sebagian masyarakat,” ujar Mama Aleta saat ditanya Outdoor Cafe Indonesia (OCI) mengenai pilihan panjat tebing dalam kegiatan prosesi April.

Felicia Tjandra, anggota Mahitala menjelaskan bahwa mereka pernah sebelumnya memanjat di Naitapan. “Setelah tambang tentu berbeda jadi kita akan kesana lihat dan coba manjat,” ia menjelaskan kepada OCI pada saat yang sama peluncuran awal Mama Aleta Fund. Felicia juga menjelaskan bahwa kegiatan pemanjatan nantinya sekaligus sebagai penghormatan dan apresiasi pada perjuangan kaum perempuan oleh masyarakat Mollo. Mahitala pun sedang mengusung kegiatan pendakian tujuh puncak benua bumi oleh pendaki perempuan. (ads)

Foto utama: Mama Aleta menjelaskan secara rinci makna motif kain tenun Timor.  Mama Aleta dan perempuan masyrakat Mollo berjuang menghentikan tambang marmer yang merusak batu yang memiliki makna adat dengan membuat tenun di depan tebing sisa tambang selama dua bulan sebagai aksi protes. (adiseno)

Similar Posts