JAKARTA – “2015 merupakan kejadian yang luar biasa dalam konteks tren pemanasan jangka panjang yang lebih luas,” demikian Gavin Schmidt, Direktur Studi Antariksa Goddard Institute NASA, kepada kantor berita Reuters. Selama 2015 rata-rata suhu global permukaan daratan dan lautan 0,90 derajat Celsius di atas rata-rata suhu abad ke-20, melampaui catatan 2014 yang hanya 0,16 derajat Celcius diatas rata-rata.

Laporan ini dilansir Badan Antariksa (National Aeronautic and Space Agency-NASA) dan Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA) Amerika Serikat. Temperatur global terpanas tahun lalu ini merupakan catatan rekor keempat pada abad 21 ini.

“Data tahun 2015 melanjutkan pola yang kita lihat selama empat sampai lima dekade terakhir,” ujar Thomas Karl, Direktur Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA. Thomas Karl juga menyatakan tidak ada perlambatan pemanasan. “Tidak ada tanda jeda atau perlambatan,” tegasnya. Ia bahkan memperkirakan tahun 2016 ini akan memecahkan rekor 2015.

Dok. : St. Budhi Prayitno
Dok. : St. Budhi Prayitno

Sementara 190 negara di Paris Desember 2015 telah sepakat dalam pembicaraan iklim untuk mencapai sasaran  peningkatan temperatur kurang dari dua derajat. Para ilmuwan mengatakan aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil, merupakan pendorong utama peningkatan itu. Salah satu petunjuknya adalah nilai rata-rata global suhu permukaan tahun 2015 lebih dari satu derajat Celcius di atas level akhir abad ke-19. Target batas kenaikan suhu oleh Perserikatan Bangsa Bangsa ini sudah tinggal setengahnya lagi. Artinya, dibutuhkan upaya lebih kuat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Pengumuman ini harus menjadi penekan bagi pemerintah guna menjalankan komitmen mereka untuk bertindak mengatasi perubahan iklim, dan untuk meningkatkan kekuatan rencana pengurangan emisi gas rumah kaca tahunan mereka,” kata Bob Ward, direktur kebijakan Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment di London. (ads/ KBN Antara)

Similar Posts