resiko pendakian

JAKARTA – Seminar atau bincang-bincang yang menghadirkan pembicara umumnya membicarakan sebuah pencapaian, keberhasilan, atau berbagi pengalaman menyenangkan. Namun, tidak demikian halnya dengan bincang-bincang di Deep Extreme 2017 yang lalu. Sesi bincang-bincang Manajemen Resiko Petualangan, banyak sekali hal tak mengenakkan dibuka. Bahkan diceritakan blak-blakan kepada hadirin yang hadir.

Amalia Yunita sebagai moderator membuka satu pertanyaan yang sama kepada semua pembicara. Pengalaman tak mengenakkan apa yang pernah didapat selama berkiprah di dunia kepetualangan. Ogun yang berbicara pertama kali menceritakan soal tragedi Sungai Van der wall, Papua pada 1991. Rekan-rekan Ogun dari Wanadri kala itu sedang ekspedisi arung jeram di sana. Tujuh dari sepuluh peserta ekspedisi meninggal saat perahu terbalik di jeram. Rudi ‘Becak’ meneruskan cerita dengan peristiwa Aconcagua 1992. Saat itu pendakian harus dihentikan karena kecelakaan, lima ruas jari Rudi harus diamputasi karena radang beku. Dan dua rekannya, Norman Edwin serta Didiek Samsu tewas saat coba kembali mendaki.

Dua cerita pengalaman ini cukup memberi kesan bahwa bincang-bincang akan mengarah pada mengorek luka-luka lama, tapi tetap harus disampaikan, tegas Yuni sebagai moderator. Cahyo Alkantana kemudian bercerita tentang pengalaman merasakan tsunami 2004 dari dekat. Kala bencana itu terjadi ia sedang menyelam di Pulau Sabang, partner menyelamnya tak pernah kembali. Sementara pengalaman paling baru ia harus kehilangan tiga anggota saat penelusuran gua di Yogyakarta. Ronnie Ibrahim memberikan kesaksian yang sedikit berbeda. Ia cerita soal teman-temannya yang terbunuh oleh pihak separatis di Papua pada dekade 80-an. Saat itu rencananya rekan-rekan Ronnie akan menjejaki Carstensz Pyramid.

Berbekal pembukaan yang tidak mengenakkan ini, bincang-bincang kemudian berlanjut ke pokok pembahasan, yakni perihal Manajemen Resiko Kegiatan Petualangan. Nampaknya idiom pengalaman merupakan guru terbaik bukan isapan jempol. Setelah semua pembicara berbagi pengalaman, mudah rasanya menarik pelajaran agar tidak mengulangi apa yang sudah terjadi. Masing-masing pembicara sangat cair setelah itu. Rudi menarik pelajaran soal bahaya. Ada dua jenis bahaya yang mesti disadari, bahaya objektif yakni bahaya yang berasal dari dalam diri manusia dan bahaya subjektif yang berasal dari luar diri manusia. Penjelasan ini diamini Ronie yang menganggap kalau teman-temannya saat itu tak mempertimbangkan bahaya dari luar itu. Lain lagi Cahyo Alkantana yang menarik pelajaran dari peristiwa di gua tahun 2014. Menurutnya, peran seorang pemimpin dalam perjalanan sangat penting. Tak baik membiarkan tim bergerak sesuai mau masing-masing. Kata “terserah” akan menggiring peristiwa yang tak terduga berdatangan.

Pada akhirnya, abstraksi soal manajemen resiko bisa didapat. Resiko di dalam dunia petualangan memang akan selalu ada. Dengan memahami resiko ini, maka sudah seharusnya setiap orang yang ingin bertualangan menyiapkan diri dengan baik. Jika persiapan sudah baik, hal yang tak kalah penting adalah saat pelaksanaan. Kontrol dari seorang pemimpin perjalanan, misalnya. Terlepas dari semua itu, satu pertimbangan penting dalam berkegiatan di alam bebas adalah selalu tahu batas. Kegiatan petualangan sejatinya adalah ajang untuk mengukur diri, tahu batas-batas diri adalah hal mutlak untuk menekan resiko yang dapat berbuah bahaya. (fir)

Foto utama: Amalia Yunita (ujung kiri) beserta para pembicara talkshow ‘Manajemen Resiko Petualangan’, Cahyo Alkantana, Ogun, Rudi Nurcahyo. 

Similar Posts