kode etik pemandu gunung

JAKARTA – Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) untuk pertama kalinya melangsungkan pengesahan Kode Etik dan Kode Perilaku Pemandu Wisata Gunung Indonesia. Panduan bagi para pemandu gunung disahkan melalui peraturan organisasi APGI Nomor 01/PO/DP/APGI/IX/2017 pada Senin (11/9).

Pengesahan sekaligus penandatanganan Kode Etik dan Perilaku Pemandu Gunung Indonesia dilakukan bersama-sama oleh Ronie Ibrahim selaku Ketua Umum APGI, Adiseno Sosromulyono sebagai Dewan Penasihat APGI, dan Muhammad Gunawan selaku Dewan Pakar APGI. Aturan baru ini langsung disosialisasikan secara resmi dalam kegiatan Sertifikasi Kompetensi Kerja Pemandu Gunung Indonesia Gelombang V yang berlangsung pada Rabu (13/9) di Ambarawa, Jawa Tengah.

APGI atau Indonesian Mountain Guide Association pertama kali dibentuk pada 30 Maret 2016 dalam musyawarah nasional pemandu gunung di Gunung Geulis Camp Site, Ciawi Bogor. Musyawarah nasional yang pertama kali diadakan kali itu dihadiri 400 pemandu gunung yang berasal dari Lampung, Jambi, Banten, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Sulawesi Utara.

Berikut Kode Etik dan Kode Perilaku Pemandu Gunung Indonesia.

Kode Etik Pemandu Wisata Gunung Indonesia

Pemandu Wisata Gunung Indonesia menyadari dan mengakui bahwa ia adalah bagian dari alam, bangsa, dan negara. Sesuai hakikat ini maka Pemandu Wisata Gunung Indonesia menyataka:

  1. Mengabdi kepada Tuhan yang Maha Esa, Bangsa dan Tanah Air.
  2. Hormat dan menghargai alam beserta isinya.
  3. Hormat dan menghargai pada sesama manusia dan seluruh kebudayaan yang dilalui.
  4. Bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan mereka yang dibawa maupun yang ditemui.
  5. Berupaya memahami kemampuan diri dan tidak melampauinya.
  6. Berusaha memahami seluruh tata cara, tata kelola, perlengkapan dan peralatan demi keselematan dan kesejahteraan di alam dan budaya.

 

Kode Perilaku Pemandu Wisata Gunung Indonesia

  1. Dalam pemanduan pendakian terkandung resikoyang tidak seluruhnyadapat diperhitungkan, karenanya pemandu wisata gunung tidak menjanjikan jaminan penuh.
  2. Pemandu wisata gunung harus selalu mutakhir dalam pengetahuan kegiatan pendakian gunung.
  3. Pemandu wisata gunung selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya.
  4. Dalam pendakian, pemandu wisata gunung harus memberi tahu dan menjawab setiap pertanyaan pendaki lain. Setiap ancaman dan perubahan yang bisa mengancam harus disampaikan.
  5. Dalam keadaan genting pemandu wisata gunung sendiri yang harus melaporkan pada tim penyelamat atau mengatur pihak lain untuk melakukan pertolongan. Pemandu wisata gunung harus membantu korban di pendakian dalam cara yang emmadai yang tidak membahayakan klien sendiri.
  6. Melalui tindak tanduknya pemandu wisata gunung melestarikan lingkungan hidup.
  7. Pemandu wisata gunung menjalankan seluruh aturan, undang-undang yang berlaku di kawasan pendakian
  8. Pemandu wisata gunung tidak berkompetisi yang mengakibatkan meningkatnya resiko pendakian.
  9. Pemandu wisata gunung bersikap bersahabat dan saling membantu serta setia pada sesama pemandu.
  10. Pemandu wisata gunung memperkenalkan diri sesuai kompetensinya. Selalu membawa bukti kompetensinya.
  11. Pemandu wisata gunung berupaya membangun hubungan baik dengan semua yang terkait dengan pekerjaannya.
  12. Pemandu wisata gunung menghargai dan menjaga keselamtan dan kesejahteraan tamunya.
  13. Tujuan utama pemanduan adalah memberikan pengalaman optimal kepada tamunya.
  14. Keputusan untuk mengubah rute atau menghentiikan pendakian harus dengan persetujuan tamu, walau pemandu wisata gunung dapat membuat keputusan sendiri selama menyangkut masalah keselamatan.

(uli)

Similar Posts