Kelahiran bayi Anoa (Buballus sp.) menjadi kado yang membahagiakan. Kelahiran tanpa bantuan medis itu bertempat di Anoa Breeding Center (ABC) pada 8 November lalu. Hal ini merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan upaya konservasi satwa liar yang dilakukan Kementrian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Diberitakan bayi Anoa tersebut berjenis kelamin betina dengan berat sekitar 3,5kg, Panjang 60cm, dan tinggi 50cm. bayi Anoa ini merupakan keturunan dari Anoa Ana betina, dan Anoa Rambo jantan dengan masa kehamilan kurang lebih 10 bulan 8 hari.

Sebelumnya, bayi Anoa lahir pada 7 Februari dnegan bantuan medis dikarenakan posisi anak Anoa yang sungsang.

Anoa adalah jenis binatang liar endemik yang dilindungi. Sejak tahun 1986 hingga 2007. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mentapkan Anoa sebagai satwa terancam punah (endangered species). Anoa juga masuk dalam Apendix 1 CITES (The Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) yang tidak boleh diperjualbelikan.

Musim kelahiran Anoa adalah Agustus-Oktober dengan jumlah kelahiran 1 anak per induk. Dalam lima tahun terakhir, populasi anoa diperkirakan kurang dari 5000 ekor, perkiraan laju penurunan populasinya mengalami selama 14-18 tahun terakhir. Mencapai 20%. Kelhairan ini tentu menjadi moment yang membahagiakan dan patut disyukuri. Diharapkan juga sebagai trigger untuk terus meningkatkan upaya pelestarian hewan yang terancam punah di
Indonesia. (sho)

 

foto utama : Induk dan Bayi Anoa (dok.eljohnnews)

Similar Posts