JAKARTA – Setelah lewat dua bulan dari ketetapan Satlak Prima yang 1 Februari 2017, pelatihan nasional Panjat Tebing dibuka pada 31 Maret 2017. Diresmikan dengan acara dan konferensi pers di Hotel Tjokro Style, Yogyakarta oleh Faisol Riza, Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Ketum PP FPTI kepada Susilo Wahid Nugroho dari Tribun Jogja, menjelaskan telah terjadi perdebatan panjang dalam menentukan tempat pelatnas. Pilihan ada Cikole, Bandung yang baru selesai menggelar sport climbing di PON XIX. Fasilitas PON seperti di Riau, Samarinda, dan sarana panjat SEA Games 2011 di Palembang. Termasuk sarana panjat KONI Jatim yang menjadi Pelatnas SEA Games.

Yogyakarta terpilih karena dianggap bisa membuat atlet nyaman untuk tinggal. “Kami yakin Yogyakarta tempat ideal untuk Pelatnas, suhu udara di sini dan Palembang tempat venue panjat tebing juga tidak jauh beda,” demikian Faisol Riza kepada Tribun Jogja.

Sebanyak 30 atlet dipanggil ke Yogyakarta. Mereka berlatih dibawah Caly Setiawan. Stadion Mandala Krida menjadi kawah candradimuka atlet panjat. Terdiri dari 15 putra dan putri. Diantarnya enam atlet junior, empat putra dan dua putri. Semua akan diseleksi hingga 20 yang akan berlaga di Asian Games 2018. Pelatnas berlangsung dari 1 April 2017 hingga Februari 2018.

Indonesia akan berlaga di disiplin lead, boulder dan speed. Target yang direncanakan dua emas dari speed. Demikian dilaporkan Harianjogja.com yang mewawancarai pelatih Caly Setiawan. (ads/berbagai sumber)

Foto utama: Foto bersama pada acara pembukaan Pelatnas Panjat Tebing untuk Asian Games 2018, pada 31 Maret 2017, di Hotel Tjokro Style, Yogyakarta antara pengurus Federasi Panjat Tebing, para tamu undangan dan atlet. (dok. FPTI/Rahmat Sofyan)

Similar Posts