Pendaki Indonesia sudah lebih dari sepuluh yang mencapai Everest (8.848m), gunung tertinggi di bumi. Sejarah panjang berada dibelakang keberhasilan Indonesia. Rangkaian empat tulisan ini mengisahkan awal dari upaya pendaki Indonesia mengibarkan Sang Saka Merah Putih di titik tertinggi dunia.

Tulisan Pertama : Mimpi Everest

Melacak mimpi pendaki Indonesia ke Everest, sama seperti mengurai apakah George Herbert Leigh Mallory berhasil mencapai Puncak Everest ketika 8 atau 9 Juni tahun 1924. Mimpi tidak pernah meninggalkan jejak, seperti jejak Mallory yang telah terhapus badai salju. Saat jenazahnya ditemukan pun pada 1 Mei 1999, jawaban pasti apakah Mallory orang pertama di Everest masih samar. Ada yang menolak, dan ada yang menerima.

everestJika kita menetapkan tanggal tertentu awal mimpi pendakian Indonesia ke Everest pasti bernasib buntu. Paling mudah adalah menetapkan jejak yang dibuat oleh para pendaki ketika mereka berlembaga. Mari kita anggap saja terbentuknya perhimpunan pendaki sebagai awal, karena pendaki pasti mimpi mendaki gunung tertinggi di bumi. Ambil saja 16 Mei 1964 sebagai awal mimpi Everest pendaki Indonesia, itu tanggal berdirinya Wanadri, Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba.

Memang dari data, Wanadri adalah perhimpunan tertua, diikuti Mapala Prajna Paramitra dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia tujuh bulan kemudian, yakni 12 Desember 1964. Mapala Prajna Paramitra ini bermetamorfosis menjadi Mapala Universitas Indonesia. Kedua perhimpunan ini memang berperan dalam meninggalkan jejak mimpi Everest Indonesia.

Bagi pencinta akurasi sejarah, tentu saja akan mengingat tabloid Mutiara, dengan lembar Kaonak, rubrik mengenai kelompok ilmiah remaja dan pencinta alam.  Mutiara pernah memuat artikel oleh Norman Edwin, wartawan petualang terkemuka Indonesia, mengenai Perkumpulan Pentjinta Alam (PPA) yang berdiri di Jogyakarta 18 Oktober tahun 1953. Norman, mengutip Awibowo pendiri PPA, dan dimuat dalam edisi 323 tabloid Mutiara (Juni,1984), “selesai revolusi kami ingin mengisi kemerdekaan ini dengan  kecintaan terhadap negeri ini.”

Namun perhimpunan ini sudah tiada setelah satu dekade karena pada akhir 50an sudah tidak lagi menerbitkan majalah Pentjinta Alam.  Sayangnya Awibowo dan kawan-kawan Pentjinta Alam-nya belum pernah mengubah mimpinya menjadi jejak yang tertera hingga ke kaki Pegunungan Himalaya.

Jadi amanlah jika mengklaim Wanadri dan Mapala UI yang mengawali mimpi pendaki Indonesia ke Everest. Kedua perhimpunan ini yang berhasil mengembangkan anggotanya untuk mendaki ke gunung salju. Dan 20 tahun setelah kedua perhimpunan berdiri, anggota mereka menjelajah hingga ke Pegunungan Himalaya. Kedua perhimpunan pun sudah lugas menjelaskan tujuan ke Himalaya berujung pada upaya mendaki Everest. (adiseno)

Similar Posts