diet keto

JAKARTA – Belakangan ini, ada pola makan baru atau tepatnya diet baru yang cukup banyak dicoba masyarakat Indonesia, khususnya ibukota. Pasalnya, diet ini justru merekomendasikan konsumsi daging dan macam-macam jenis makanan berlemak lainnya. Jenis diet ini hampir sama dengan Diet Atkins dan low-carbs diet. Sebutannya adalah Diet Keto.

Ketogenic Diet atau biasa disingkat ‘Keto’ adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Karena fokus pada penurunan asupan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh, diet keto menyebabkan penurunan kadar gula darah dan tingkat insulin. Proses reduksi karbohidrat dalam tubuh inilah yang disebut ketosis, menginspirasi nama ‘keto’.

Dalam Keto, para pelakunya harus berusaha untuk mengonsumsi karbo hanya 15-35gram per hari. Sebagai ganti energi dari karbohidrat, dipilihlah lemak. Jika dipersentasekan, maka jumlah lemak yang bisa dikonsumsi tubuh adalah sebanyak 70%, 25% protein, dan sisanya 5% adalah karbohidrat. Tingginya asupan lemak akan dialihkan menjadi energi, juga dapat diubah menjadi keton di bagian hati untuk menyediakan asupan energi ke otak.

Selain daging serta makanan lain yang tinggi kandungan lemaknya, dalam menjalani Diet Keto juga dianjutkan mengonsumsi sayuran. Sayur yang bisa dikonsumsi diantaranya bayam, brokoli, buncis, zucchini, dan jamur. Olahannya bisa dicampur dengan daging atau sesuai selera pelaku diet, asal tetap sesuai dengan persentase lemak-protein-karbo yang dianjurkan. Pelaku diet keto juga diperbolehkan makan high-fat dairy—keju, fat-cream, kacang-kacangan, atau salad dengan lemak tinggi sebagai camilan. Yang justru pantang adalah mengonsumsi makanan yang mengandung gula semacam madu dan sirup. Termasuk juga buah-buahan yang tinggi kadar gulanya seperti pisang, apel, dan jeruk. Sebagai alternatif buah yang bisa dikonsumsi adalah alpukat, tomat, dan jenis-jenis beri.

Manfaat Keto: Berat Badan Turun Hingga Sembuhkan Epilepsi

Para pelaku Diet Keto percaya keto lebih manjur untuk menurunkan berat badan. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine pada 2008, dari 322 orang yang mengalami obesitas yang diminta menjalani beragam jenis diet, para pelaku diet tinggi lemak berhasil menurunkan beratnya sebanyak 4,7kg dalam kurun waktu dua bulan. Sedangkan grup diet low-fat hanya turun 2,9kg.

diet keto
(sumber: pinterest.com)

 

Karena rendah karbo, Keto juga terbukti membantu mengontrol gula darah sampai membantu para pelaku Keto mengontrol tingkat fokus dan emosinya. Kolestrol LDL (Low-density Lippoprotein) atau yang dikenal sebagai kolestrol jahat dan tekanan darah juga menurun akibat berat badan yang juga turun. Sebaliknya, kolestrol HDL (High-Density Lippoprotein) yang berfungsi sebagai pembersih dalam saluran pembuluh darah arteri akan meningkat. Yang lebih menjanjikan, Keto membantu menormalisasi tingkat lapar. Jadi kalaupun pelaku diet ini berhenti melakukan diet, setidaknya rasa lapar menjadi lebih terarah karena sudah terbiasa dengan pola Keto.

Sebelum populer, Keto pernah dijadikan terapi untuk membantu menyembuhkan epilepsi. Adalah Charlie Abrahams mencoba menjalani Keto untuk penyembuhan epilepsinya. Charlie sukses mengontrol penyakitnya dan tidak mengalami obesitas sekalipun selama proses Keto berlangsung. Saat kisah Charlie diliput media NBC di AS pada 1994, Keto mulai dikenal luas disana. Selain epilepsi, Keto juga dapat menjadi alternatif pengobatan penyakit diabetes, kanker, hingga alzheimer.

Meski terbilang menggiurkan, diet ini tidak instan. Pada masa awal, pelaku diet akan mengalami keto-flu. Gejalanya mulai dari sakit kepala, mual, dan sering buang air kecil. Selanjutnya, pelaku diet keto kemungkinan akan lebih lemas dari biasanya, mengalami konstipasi, keram, hingga jantung yang berdetak lebih cepat.

Untuk mengoptimalkan kerja Diet Keto, harus banyak minum air. Juga kurangi atau bahkan cobalah berhenti makan snack karena snack memperlambat penurunan berat badan. Atau jika ingin lebih sukses menjalani Keto, puasa bisa membantu. Ditambah dengan olahraga teratur dan mengonsumsi suplemen. Yang lebih penting, menjaga konsistensi menjalani diet itu sendiri. Karena proses tidak kalah penting dengan hasil. (uli/berbagai sumber)

Similar Posts