pendidikan dasar pencinta alam

JAKARTA – Denyut nadi sebuah organisasi tak hanya ditentukan oleh berjalannya aktivitas atau program yang telah dirancang, tetapi juga ditentukan oleh keberhasilan regenerasi di dalamnya. Regenerasi sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan. Tak terkecuali dalam organisasi pencinta alam, atau perkumpulan pendaki gunung, atau organisasi petualangan. Persoalan menjadi semakin kompleks sebab organisasi pencinta alam memiliki media belajar yang berbeda: alam liar beserta keunikannya.

Alam liar, baik gunung, hutan, tebing, gua, sungai, bahkan laut adalah satu daerah yang bebas dari nilai-nilai. Artinya, tak ada kompromi di alam liar. Ketika hujan turun, seketika itu air akan membasahi tubuh, akibatnya badan akan terasa dingin. Apabila mengabaikan hal ini, maka bahaya sudah mengintai. Tak ada benar salah, yang ada hanya konsekuensi yang langsung dirasakan. Kebebasan di alam liar berjalan seiring dengan bahaya. Oleh karenanya, pendidikan dasar sebagai media regenerasi di organisasi pencinta alam menjadi semakin kompleks, karena semua hal yang sudah disebutkan.

Lalu bagaimana cara mendidik para calon petualang, pendaki gunung, atau pencinta alam? Banyak pendapat soal itu, tapi untuk memudahkan, kita dapat melihat dua organisasi petualang yang sudah berdiri lebih dari 50 tahun dan dapat bertahan bahkan menuai prestasi hingga kini, Wanadri dan Mapala UI. Kedua organisasi ini dapat disandingkan karena perbedaan latar belakang organisasi dan “gaya” mendidiknya yang juga berbeda tapi tetap dalam satu nafas.

Cara Untuk Mencapai Tujuan

Alisar Muntoi, anggota Wanadri yang sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan pencinta alam memberikan pandangannya dalam sebuah wawancara dengan outdoorcafeindonesia.com. Menurutnya, pendidikan dasar yang dilakukan tidak bisa dilepaskan dari tujuan. Bahkan, tujuan sudah harus selesai dulu di awal. Baik tujuan organisasi, maupun tujuan pendidikan dasar sebagai bentuk lanjutan dari tujuan organisasi secara lebih besar. Sehingga, pendidikan yang dilakukan fokus untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

pendidikan dasar pencinta alam
Peserta Pendidikan Dasar Wanadri 2016 melakukan serangkaian kegiatan selama lebih kurang satu bulan. Pendidikan Dasar Wanadri dirancang untuk melatih nilai-nilai kedisiplinan, kesigapan, tanggung jawab, dan kerjasama tim. (sumber: Fanpage Pendidikan Dasar Wanadri)

Hal ini tak jauh dari kegiatan utama organisasi pencinta alam, yakni naik gunung. Ketika hendak naik gunung, hal pertama yang harus diselesaikan adalah tujuannya lebih dulu. Dalam hal ini, tujuannya adalah mencapai puncak suatu gunung. Barulah setelah itu, dapat ditentukan bagaimana caranya untuk mendaki gunung hingga mencapai puncak dengan aman, nyaman, dan senang. Metode yang dipakai harus menyesuaikan dengan tujuan yang ingin didapat.

Wanadri, dalam hal ini adalah sebuah organisasi yang bercita-cita untuk memiliki anggota yang jujur, tabah, ulet, dan berani, serta anggota yang mencintai alam dan negerinya. Di dalam pendidikan dasarnya, nilai-nilai itulah yang ditanamkan. Sementara Mapala UI di lain sisi bercita-cita untuk mengenal negerinya dari dekat untuk menumbuhkan kecintaan. Soe Hok-gie sebagai salah satu pendiri meyakini bahwa sikap nasionalis tidak akan tumbuh dari slogan, tapi justru dari mengenal masyarakatnya dari dekat. Aroma humanisme sangat lekat di sana, juga pertemanan, dan kebersamaan.

Menengok Para Pionir Menjaga Denyut Nadi

Alisar mengisahkan bahwa ketika ia mengikuti Pendidikan Dasar di Wanadri selama satu bulan pada 1989, ia tidak banyak mengerti tujuan dari pelatihan tersebut. Mulai dari apel pagi setiap hari, rawa laut, hingga berjalan di jalur kereta. Ia pun tambah heran dan mulai curiga saat Jenderal Sarwo Edhi juga ikut memberikan materi. Kala itu Pak Sarwo memberikan materi mengenai jiwa korsa. Alisar merasa bahwa apa yang diajarkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan mendaki gunung. Keheranan Alisar mulai terjawab saat dirinya mulai menjadi anggota, badan pengurus, dan terlebih lagi menaruh perhatian terhadap pendidikan pencinta alam. Dengan latar belakang yang beragam, sesungguhnya yang paling berat adalah membentuk karakter seseorang, karakter manusia Wanadri yang dicita-citakan. Oleh karenanya, Wanadri memilih untuk membentuk karakter itu selama masa pendidikan dasar.

Para pendiri Wanadri yang bekas pandu sangat dekat dengan militer. Mereka sempat berlatih bersama, hingga akhirnya timbul untuk mengadopsi cara pendidikan a la Komando yang lamanya tujuh bulan. Tapi, pada kajiannya, dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena peserta yang berasal dari berbagai kalangan, maka ditetapkan bahwa pendidikan dasar dilakukan selama satu bulan dengan mengadopsi cara Komando membentuk karakter. Alisar menegaskan bahwa naik gunung hanya sebuah cara atau medium, sementara yang paling utama adalah karakter manusianya, tujuan organisasinya. Soal keinginan berprestasi, itu adalah hal lain yang tak lepas dari semakin berkembangnya organisasi.

Sementara Mapala UI yang dibentuk di lingkungan kampus punya cara lain untuk mencapai tujuannya. Untuk merekrut anggota, sejak pertama terbentuk hingga belasan tahun kemudian dilakukan dengan cara closed recruitment. Mapala UI tidak membuka secara terbuka siapa yang ingin menjadi anggota, tetapi terbatas pada lingkaran pertemanan. Hadidjojo Nitimiharjo mengungkapkan pada laman Facebook-nya bahwa setiap orang yang ingin menjadi anggota Mapala UI di masa awal terbentuk akan dibawa oleh anggota yang sudah memiliki nomor untuk “nyantrik” atau magang bersama anggota Mapala UI yang lain. Mereka (calon anggota) akan diajak untuk berkegiatan bersama, mulai dari naik gunung, penelitian, dan kegiatan sekadar kumpul-kumpul lainnya. Materi diberikan secara langsung saat berkegiatan bersama. Anggota yang sudah lebih dulu mendapat nomor bertugas sebagai mentor yang menemani calon anggota berkegiatan sekaligus menjadi role model  bagi calon anggota untuk mencontoh setiap tindak-tanduk dan cara menjadi anggota Mapala UI. Baru ketika dirasa cukup dan layak, calon anggota akan dilantik menjadi anggota dan diberi nomor anggota.

Cara seperti ini dipakai mengingat latar belakang yang seragam dari anggota Mapala UI, yakni mahasiswa. Sehingga, cara pertemanan diyakini menjadi cara yang tepat untuk membangun sebuah tim yang akan menjalankan kegiatan bersama. Dengan cara seperti ini, baik Wanadri dan Mapala UI terbukti dapat bertahan dan menjalankan kegiatan sesuai dengan apa yang dijadikan tujuan organisasi secara lebih luas. (firman arif) – bersambung.

Foto utama: Lembah Suryakencana menjadi salah satu medan pertama yang ‘dikenalkan’ para anggota Maapala UI kepada calon anggota nya yang mengikuti proses pendidikan. (dokumentasi Mapala UI)

Similar Posts