mendaki gunung merbabu via suwanting

JAKARTA – Selo adalah nama sebuah kawasan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan ini berada di kaki gunung yang sangat populer di Jawa Tengah, yakni Merbabu dan Merapi. Jika biasanya sebuah desa atau dusun atau bahkan kecamatan hanya berada di satu kaki gunung, tidak dengan Selo. Kawasan ini membentang di antara dua gunung. Di situ adalah awal mula keunikan tempat ini.

Nama Selo berasal dari bahasa jawa yakni ‘Sela’ yang berarti di antara. Nama itu diambil dari letak kawasan yang diapit oleh Gunung Merbabu dan Merapi. Masyarakatnya sama seperti kebanyakan masyarakat kaki gunung yang berprofesi sebagai petani sayuran. Segala jenis sayuran ditanam di tanah yang terkenal subur karena pengaruh gunung berapi. Bahkan, kawasan ini menjadi salah satu pemasok utama bahan sayuran untuk Yogya dan Jawa Tengah, begitu tutur salah seorang warganya.

Perjanjian Merbabu dan Merapi

Masyarakat kaki gunung, khususnya di Indonesia masih sangat kental dengan cerita-cerita mistis tentang gunung. Disamping itu, kadang ada cerita menarik yang bisa dikatakan sebagai sebuah kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat di kaki gunung. Seperti cerita tentang Prabu Siliwangi di alun-alun Suryakencana, Gunung Gede, Jawa Barat misalnya. Begitupun dengan Gunung Merbabu dan Merapi. Ada cerita yang tidak banyak diketahui umum dan hanya diketahui oleh masyarakat di kaki Gunung Merbabu dan Merapi. Pendaki yang sudah mendaki keduanya tanpa menyempatkan diri berbincang dengan masyarakatnya juga tidak akan tahu cerita ini.

Konon, diceritakan bahwa Gunung Merbabu adalah seorang perempuan, sesuai namanya yang diambil dari sebuah bahasa yang berarti perempuan. Sementara Gunung Merapi adalah kebalikannya, yakni berjenis kelamin laki-laki. Gunung Merapi dikenal sebagai gunung berapi yang sangat aktif. Seringkali aktivitasnya meningkat, mulai dari gempa tremor kecil, hingga kepulan asap yang meninggi.

Ada satu kepercayaan masyarakat sekitar tentang hal itu. Masyarakat sekitar percaya bahwa sudah ada semacam “perjanjian” antara Merbabu dan Merapi yang berisi tentang persetujuan untuk tidak mengarahkan setiap abu dan awan panas yang ditumpahkan oleh Merapi kearah Merbabu. Entah darimana kepercayaan ini berasal, tapi sejauh yang diamati oleh warga di Selo, abu memang tidak pernah mampir ke tempat tinggal mereka. Seperti saat aktivitas Merapi meningkat pada tahun 2011 lalu.

Selain itu, masyarakat sekitar percaya bahwa jika suatu kali hal itu dilanggar, artinya abu Merapi sudah tumpah di Selo, maka sesuatu yang tidak dapat dicegah akan terjadi. Masyarakat percaya bahwa hal itu adalah sebuah bencana besar untuk manusia. Kepercayaan ini dipegang teguh oleh masyarakat di Selo dan saat Merapi sudah meningkat aktivitasnya, mereka akan memperhatikan arah abu dan awan panas yang ditumpahkan oleh Merapi.

Kecamatan Sejuta Potensi, Minim Fasilitas

Letak strategis Selo sebagai satu kawasan nyatanya belum dimanfaatkan optimal. Potensi Selo tidak hanya terletak pada kesuburan tanahnya yang menumbuhkan tongkat kayu menjadi tanaman. Tapi juga terletak pada sejumlah potensi wisata yang akan mendatangkan berbagai keuntungan jika digarap serius. Salah satunya adalah pendakian menuju dua gunung yakni Merapi dan Merbabu. wisata lain yang dapat dimanfaatkan adalah wisata air terjun, arung jeram, river tubbing, hingga aktivitas berkebun dan agrowisata lainnya. Semua potensi itu dimiliki oleh Selo sebagai sebuah tempat. Namun, hal itu tidak terlihat dari fasilitas penunjangnya.

Transportasi sebagai salah satu pintu untuk memudahkan orang luar masuk ke dalam satu kawasan masih banyak menyisakan catatan. Transportasi umum sangat terbatas bahkan dapat dibilang tidak ada. Hanya ada mobil-mobil bak setelah mengangkut sayuran yang dapat dijadikan tumpangan. Belum lagi jalanan berlubang yang masih menganga di sana-sini. Seharusnya ada transportasi umum yang dapat memudahkan setiap orang yang ingin ke Selo. Hal ini juga untuk membudayakan bepergian dengan menggunakan transportasi publik, selain alasan ongkos yang dapat dipangkas murah oleh para pejalan. Selama ini, mereka harus merogoh kocek sangat dalam karena harus menyewa kendaraan untuk sampai atau keluar dari Selo.

Fasilitas lain yang masih sangat minim di Selo adalah rumah makan, ATM, dan fasilitas penunjang lain yang pada intinya dapat memudahkan orang luar sebagai pengunjung atau wisatawan saat hendak menuju ke Selo. Kecamatan ini terkesan hanya diperuntukkan warganya saja untuk hidup menjalani kehidupan sehari-hari yang didominasi oleh aktivitas pertanian. Seolah tak ingin keluar dari zona nyaman mengembangkan diri menjadi satu daerah yang kaya potensi.

Memang semua itu berpulang pada pemangku kepentingan dan masyarakat Selo itu sendiri. Jika memang mereka ingin keluar dari zona nyaman dan mengembangkan diri, maka serangkaian perbaikan dan inovasi itulah yang diperlukan. Namun, jika pada kenyataannya mereka tetap ingin menjadi satu desa bersahaja dengan hidup yang secukup dan sewajarnya, keadaan sekarang sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan itu semua. (firman arif)

Similar Posts