pendakian gunung prau

WONOSOBO – Bergiat di alam bebas tidak kenal musim. Selalu ada pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Kalau belum  bisa memanjat ke tebing, bisa pergi dulu ke dinding panjat. Kalau musim hujan menghalangi turun ke goa vertikal, goa horizontal bisa jadi pilihan. Begitu pun dengan naik gunung. Jadwal puasa di Bulan Ramadhan tidak menjadi penghalang rutinitas naik gunung. Gunung Prau, dengan ketinggian 2.565 mdpl menjadi tujuan saya untuk mendaki saat puasa.

pendakian gunung prau ramadhan
Mendung di jalur berbatu menuju Pos 1.

Ada empat jalur pendakian yakni Patak Banteng, Kali Lembu, Dieng Wetan, dan Dwarawati atau Dieng Kulon. Jalur Patak Banteng dikenal sebagai jalur yang paling cepat ditempuh. Berbeda dengan pendakian lain yang pernah saya lakukan saat Ramadhan, pendakian menuju Prau kali ini dimulai siang hari. Saat masih menjalankan puasa. Rencananya memang agar bisa berbuka puasa di lokasi camp sambil menikmati matahari terbenam. Namun, gerimis sudah mulai datang saat pendakian baru berjalan sekitar tiga puluh menit. Memang setibanya saya dan rombongan pendaki di pos lapor, langit sudah mendung. Hujan juga sempat turun dan membuat pendaki harus menunggu reda untuk memulai perjalanan.

Dugaan para pendaki bahwa hanya akan gerimis sampai puncak ternyata salah. Beberapa saat setelah tiba di Pos 2, hujan turun tanpa ampun. Padahal dari Pos 2 menuju puncak lah jalur pendakian akan terus menanjak. Jalur yang jadi sangat licin membuat pergerakan pendaki, termasuk saya, jadi lebih lambat. Alhasil saya menghabiskan waktu empat jam di jalur, padahal mendaki Prau lewat Patak Banteng diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam.

Jalur Patak Banteng dikenal ‘aman’, bahkan bagi para pendaki pemula karena jalur sudah dibuat menjadi anak tangga. Jalur dari basecamp hingga Pos 1 sudah lebih tertata dengan menggunakan batu-batu kali. Jalur ini juga yang dipakai warga untuk mengangkut hasil tani dengan menggunakan sepeda motor. Jalur selanjutnya masih tertata seperti anak tangga dengan dibatasi pipa atau kayu, meskipun hanya tinggal tanah merah. Sayangnya, saat hujan turun, jalur ‘rapi’ ini malah menjadi ‘jalur resmi’ bagi aliran air. Minimnya pegangan berupa pohon atau batang tumbuhan juga semakin mempersulit pendakian. Rencana berbuka di atas camp pun batal karena saya masih saja kehujanan di jalur saat adzan sudah terdengar.

Menjelang waktu matahari terbit, hujan juga belum berhenti. Rencana mengabadikan momen matahari terbit di Puncak Prau sudah dipastikan gagal. Waktu menunjukkan pukul 06.30 saat hujan mulai reda. Untungnya, pendakian gunung, termasuk Prau, saat bulan puasa tidak seramai hari biasanya. Perjalanan cukup terbayar dengan pemandangan ‘seribu bukit’ yang bersih tanpa terhalang ratusan tenda pendaki atau sampah sisa pendakian. Suasana Prau benar-benar sepi. Tidak ingin membuang waktu, saya segera mengeluarkan kamera untuk mengambil foto seribu bukit sebanyak-banyaknya sebelum hujan turun lagi. (aulia rachmawati)

Foto utama: Suasana ‘seribu bukit’ yang tidak terlalu dipadati tenda pendaki (dok. pribadi).

Similar Posts