Oleh : Firman Arif

Acta Exteriora Indicant Interiora Secreta

JAKARTA – Ada pikiran yang sembunyi dalam kata alternatif. Ia dimaksudkan sebagai pilihan kedua jika tidak mau disebut sebagai “escape plan” atau rencana yang sebetulnya tidak diharapkan. Pada banyak hal, ada banyak sekali alternatif, tidak terkecuali dalam kegiatan luar ruang. Cerita heroik tentang siapa pemecah rekor apa dalam kegiatan apa sudah tentu banyak kita dengar. Rekor-rekor dan kisah heroik lain yang kerap kita dengar seperti pemanjatan manusia pada wilayah tegak lurus yang kita sebut tebing, atau kisah pengarungan pada air bergulung berbuih putih menggunakan perahu karet, atau bahkan manusia-manusia yang merealisasikan mimpi umat untuk terbang menggunakan alat bantu. Semua kegiatan tadi tidak hanya menuturkan kisah heroik, tapi juga sudah menjadi perlombaan untuk mencari siapa yang terbaik.

Jauh dari sorot pantauan, awam tidak akan terlalu familiar dengan telusur gua layaknya ketika kita berbicara mengenai arung jeram, panjat tebing, atau bahkan kegiatan luar lain seperti halnya paralayang. Ini dapat dipahami karena telusur gua memang terkesan eksklusif, kering kisah heroik, dan mengundang banyak tanya. Selain yang memang tergabung di klub kegiatan alam bebas atau ilmuwan, dapat dihitung berapa banyak orang yang mau mencoba kegiatan ini. Paling mentok adalah mencoba masuk ke gua yang sudah dipoles sedemikian rupa agar ramah bagi manusia. Pada akhirnya telusur gua seperti letaknya yang tersembunyi harus terpinggirkan dan menjadi kegiatan kelas dua, tidak banyak yang membicarakannya.

Cerita Pelesiran ke Perut Bumi

CavingRasa penasaran akan cerita dibalik lorong-lorong gelap dan misterius bernama gua dapat kita intip melalui mereka yang memang atas dasar keilmuwan atau tergabung dalam klub pegiat alam bebas. Dedy Aloy salah satunya. Ia adalah alumni Universitas Indonesia jurusan Arkeologi. Sejak dulu, nenek moyang kita sudah meninggalkan jejak yang harus kita tafsir salah satunya ada di dalam gua. Maka sejak kuliah, Dedy yang banyak bergaul dengan calon Arkeolog lain sudah mulai masuk-keluar gua, selain memang ia juga tergabung di klub pegiat alam bebas. Dedy mengakui pengaruh para seniornya itu.

Orang-orang Prancis lebih dulu mempelopori kegiatan ini. Di Indonesia, kebutuhan keilmuan dan keberadaan klub pegiat alam tidak dapat dikesampingkan. Dekade 80-an, kegiatan ini banyak dibicarakan lantaran ada tabloid yang khusus memuat kegiatan remaja pencinta alam. Pada dekade itulah Dedy juga telah memulai masuk ke labirin alami yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu itu.

Dedy Aloy yang hingga kini masih aktif bergiat di alam terbuka ini bercerita mengenai pengalamannya pelesiran ke perut bumi. Apa yang ada di dalam tidaklah seseram perspektif awam. Formasi endapan kalsit yang menggantung atau stalagtit, endapan yang menjulang – stalagmit, bahkan endapan kalsit di lorong gua atau flow stone semuanya berpendar membentuk lorong-lorong berkilau dengan terpaan sinar pada helm. Standar keselamatan penelusuran goa memang menghendaki setiap orang untuk memakai helm beserta alat penerangan berupa senter yang melekat pada helm.

Keindahan semacam ini yang kadang berbanding terbalik dengan mulut gua menganga yang mengakibatkan rasa takut. Dedy bercerita tentang kekaguman dia pada kawasan karst di Kalimantan. Di sana, ia menemui sebuah gua yang memiliki kubah atau chamber yang sangat besar. Pemeluk agama Islam dapat membayangkan bagaimana berada di dalam tempat ibadah yang memiliki kubah, hanya saja ini terbentuk secara alami. Kemegahan dan keindahan ornamen dalam gua ini sangat menarik dan berkesan untuk Dedy.

Berbicara tentang gua dan karst tidak melulu bicara soal keindahan. Bagi masyarakat sekitar, ia adalah harapan. Air yang tertampung di dalam adalah penyelamat ketika kemarau panjang sedang singgah. Bagi orang yang ulet, ia adalah tempat untuk mendapatkan rezeki dengan mengambil liur walet yang terkenal mahal jika di jual. Bagi pengusaha yang jeli, ia adalah peluang untuk meraup untung menjadikan kawasan sekitar sebagai tambang yang hasilnya biasanya dinikmati orang berada untuk dijadikan lantai rumah mereka. Dedy juga bercerita soal ini. Pernah sekali waktu ia sedang ada di dalam gua, dari dalam ia merasakan ada suara dentuman dan getaran yang sangat kuat. Setelah ditelisik ternyata itu berasal dari penambangan kapur di sekitar kawasan gua. Menyedihkan jika seandainya hal itu akan mengikis keberadaan tempat ini.

Bukan Sekadar Alternatif

Telusur gua bukanlah kegiatan alternatif. Ia merupakan kegiatan alam bebas yang memiliki resikonya sendiri. Seperti yang dituturkan Dedy, melakukan kegiatan ini harus penuh perhitungan. Mulai dari penambat yang digunakan. Setiap penambat haruslah diyakini kokoh dan memiliki back up di beberapa bagian. Tali yang akan digunakan untuk turun tidak diperkenankan mengenai bagian batu untuk menghindari gesekan yang menyebabkan tali rusak bahkan putus. Ini dengan catatan bila mulut gua berbentuk menurun atau vertikal, mengingat ada pula jenis gua yang memiliki mulut mendatar atau horizontal.

Goa memang tempat yang penuh misteri. Masuk ke dalamnya berarti mempersiapkan segala sesuatu semenjak dari luar. Ketika lorong-lorongnya semakin menyulitkan cahaya yang masuk, maka kita harus membawa sumber penerangan sendiri. Dan yang tak kalah penting, segala sesuatu yang kita bawa masuk harus kembali kita bawa keluar. Kecuali gambar dan jejak kaki. Biarlah coretan di dinding hanya nenek moyang kita yang membuatnya agar kita dapat mengenal mereka. Acta Exteriora Indicant Interiora Secreta – tindakan diluar menunjukan rahasia didalam.

Similar Posts