mendaki carstensz via sugapa

JAKARTA – Hampir semua yang mengenal Papua, provinsi paling timur Indonesia, mengeluhkan perkara palang. Kayu di silang menghadang jalan. Demo ala Papua pernah dialami kantor bank pemerintah, pemerintah daerah, selebriti yang melaporkan perjalanan di kawasan Wamena pun menayangkan palang di televisi berita swasta nasional.

Begitu pula para pelancong gunung Carstensz Pyramid. Ini pengalaman Mahendratta Sambodho (40) dipanggil Dodot oleh kawan-kawannya di Mapala UI. Dodot mendaki pada akhir April hingga pertengahan Mei ke Carstensz Pyramid. Mereka memilih lewat Sugapa karena ini rute wisata yang biasa dilalui penyedia jasa pemandu Carstensz.

Baru saja mendarat di landasan kecil Sugapa, ibukota kabupaten Intan Jaya, mereka didatangi kelompok masyarakat setempat. Dodot dan lima kawan dari  Surveyor Indonesia terkejut ketika dimintai 32juta rupiah. Bukan untuk ground handling bagasi di bandara perintis, tetapi karena ada rombongan pendaki wisata yang memberi tip sejumlah sama kepada masyarakat Swanggama, desa terakhir di Intan Jaya sebelum mulai masuk ke belantara gunung.

mendaki carstensz via sugapa
Palang ala jongkok di desa menghalangi rombongan pendaki karena tidak semua masyarakat bisa diajak sebagai portir pendakian (dok. Mahendratta  Sambodho/Surveyor Indonesia)

Belum habis terheran-heran, karena tuntutan tip di muka, untuk tindakan dari rombongan yang sama sekali beda, datang lain orang. “Bapak mau kemana?” tanya pria yang tampaknya tidak sepenuhnya sadar oleh pengaruh miras. Setelah dijelaskan akan ke Carstensz, pria yang diduga mabuk itu mengatakan,” Tidak bisa pulang saja, ini bandara punya saya, pemerintah baru beli surat, belum beli tanah.” Jika tidak mau pulang tentu saja musti bayar.

Ini masih lagi berlanjut, menuju Desa Swanggama, para pendaki masih bisa pakai ojek motor atau bahkan mobil. Lapor ke aparat negara, syukur diberi pengawalan. Tapi ada biayanya, satu pengawal bersenjata lengkap Rp1,5juta, motor mereka Rp500ribu. Setelah itu pun masih ada surat diantar supir ojek yang minta tambahan tanpa penjelasan rincian biaya.

Perjalanan panjang menuju Carstensz Pyramid melalui Sugapa diimbuhi pegal otot dan pegal hati karena palang palak ala Papua. (dok. Mahendratta  Sambodho/Surveyor Indonesia)mendaki carstensz via sugapa
Perjalanan panjang menuju Carstensz Pyramid melalui Sugapa diimbuhi pegal otot dan pegal hati karena palang palak ala Papua. (dok. Mahendratta  Sambodho/Surveyor Indonesia)

Di desa masih ada lagi palang berikutnya. Beberapa orang yang membantu saat melewati rute Sugapa Swanggama yang masih jalan tanah, tidak terpilih sebagai portir. Mereka pun membentuk palang dengan berjongkok di jalan. Tuntutan uang yang masuk definisi palak kalau pakai istilah Jakarta.Di tengah belantara, saat melalui hutan lebat, perkara palak ini masih belum selesai. Di setapak hutan, seorang pria memperlihatkan parangnya yang memang sudah tidak baru lagi. Ia mengatakan bahwa ia membersihkan rute, membabat ranting dan dahan. Ia menuntut satu juta rupiah untuk memperbaiki parangnya karena digunakan untuk pemeliharaan rute.

Pada 7 Mei rombongan Dodot dan teman-teman Surveyor Indonesia, Fitri Agung, Yusuf, Hadi, Manin, dan Leni berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramid. Pegal otot setelah jalan seminggu dan mendaki seharian ke 4.884meter gunung tertinggi Indonesia, masih musti ditambah pegal hati menangani perkara palang palak ala Papua. (adiseno)

 

Similar Posts