Ternate The Good, Palangkaraya The Bad , Gerhana Tidak Ugly

Oleh : Adi Seno

JAKARTA – Kota Ternate yang biasanya sepi, mulai dipadati orang-orang. Pemberitaan besar-besaran dari media seputar fenomena gerhana matahari total yang akan melewati kota ini yang jadi penyebabnya. Dari dua belas titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia, Ternate lah yang dipilih Satya Winnie (24) dan beberapa temannya. Berpedoman dari berita ‘makin ke timur, makin cerah cuacanya’ yang berarti gerhananya akan makin terlihat.

Berbeda dengan Satya, Adiseno (56)  memilih Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk menyaksikan fenomena yang lewat Indonesia tigapuluh tahun lagi. Pertimbangannya, lebih ke kedekatan lokasi, dan lingkungan yang menarik diantara wetland, lahan gambut.

Gerhana Matahari Total
Gerhana matahari total di Benteng Toluko, Ternate, Maluku Utara diambil pada pukul 09.51. Menggunakan Olympus mirrorless EP-PEN 3. (Foto oleh: Satya Winnie)

Pukul enam pagi, Satya dan teman-temannya segera berangkat ke Benteng Toluko yang jadi lokasi pengamatan. Panas terik, karena benteng ini adalah lokasi terbuka tanpa ada tempat untuk berteduh. Orang-orang sudah bersiap dengan ‘alat tempur’ untuk melihat fenomena ini. Kamera berbagai tipe yang diberi filter sudah bertengger di tripod masing-masing. Selain lokasi memotret, memang butuh filter khusus untuk mengabadikan momen gerhana.

Satya sendiri menggunakan kacamata untuk melihat gerhana sebagai filter kamera karena tidak bawa filter khusus. Ada juga yang menempelkan piring styrofoam yang dilubangi dan ditempel kaca film. Bahkan ada yang sekedar membawa kertas rontgen dan kantong plastik hitam.

Kantong sampah dari plastik hitam pun dipilih Adiseno dan lainnya di jembatan layang Tumbang Nusa, Palangkaraya. Jalan sepanjang 10 kilometer diatas lahan gambut menyambungkan Palangkaraya dengan Banjarmasin.  Mirip Satya, juga tanpa filter khusus, Adiseno memilih asa terendah, 100 asa, kecepatan rana tertinggi 1/8000 hingga bukaan rana terkecil di lensanya. Tripod pun dijadikan sandaran, terpasang di tepi jalan yang masih ramai dilalui kendaraan pribadi dan niaga.

Pagi ketika Satya bergerak gerah menuju Benteng Toluko, Adiseno dan kawannya mengenakan jaket lengkap dan payung terkembang. Hujan deras mengguyur Palangkaraya. Kekecewaan Adiseno terlipur sejenak ketika jelang Tumbang Nusa, hujan mereda. Namun awan menggantung di seputar mata angin.

Pukul 08.43, bulan mulai bergerak menutupi matahari. Langit yang tadinya berwarna biru cerah mulai berubah merah dengan semburat kuning dan oranye. Bunyi klik kamera di terdengar dari berbagai sudut. Mengabadikan momen sejak awal supaya hasil fotonya bisa dipamerkan dengan tema timelapse. Pukul 09.31, matahari mulai terlihat seperti bulan sabit. Rasa deg-deg bercampur excited karena butuh puluhan tahun untuk menyaksikan momen yang hanya berlangsung dalam hitungan menit ini.

Adiseno hanya bisa menjepret terpaksa, ketika awan berbaik menyingkap diri dan memperlihatkan tanda senyum matahari. Lengkung kecil dibalik awan ini lebih baik daripada mereka yang berada di kota Tangkilisan hanya 60kilometer dari Tumbang Nusa. Disana hujan masih mengguyur ketika gerhana total berlangsung. Mantan menteri luar negeri Hasan Wirayuda termasuk yang tidak bisa mengintip gerhana total disana.

Yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pukul 09.51, bulan menutupi matahari dengan sempurna. Langit berubah jadi gelap total. Setelah melepas ‘filter buatan’ yang terpasang pada lensa kameranya, layar kamera Satya menangkap lingkaran putih di tengah langit gelap. Gerhana matahari total. Dengan sigap ditekannya tombol shutter berulang kali. Ucap syukur dan doa supaya awan tidak menutupi langit makin banyak terdengar. (uli/ads/ ditulis ulang dari Satyawinnie.com)

Foto Utama :
Gerhana matahari tertutup awan di jalan layang Tumbang Nusa, Palangkaraya, Kalimantan Tengah diambil pada pukul 7.21 WIB. Menggunakan Nikon D4s, lensa 200mm jarak fokal infinit, program manual, f-stop 5, dan kecepatan rana 1/6400, asa 100. (adiseno)

Similar Posts