Ekspedisi Ae Dikit Mapala UI.

Tim Mapala Universitas Indonesia memilih Ae Dikit, sungai yang tidak pernah diarungi perahu karet. Mereka melakukan penjelajahan sungai dengan mengirimkan tim survey darat, baru kemudian melaksanakan pengarungan. Sebelumnya Outdoor Cafe Indonesia sudah memberitakan kegiatan survey darat. Berikut ini Firman Arif menuliskan kisah tim ekspedisi Ae Dikit Mapala UI dalam tiga tulisan

Memecah Jeram Menghadapi Tantangan

Oleh : Firman Arif

JAKARTA – Aktivitas berjalan dan mengamati setiap jeram selama tujuh hari sebelum pengarungan yang meyakinkan tim untuk tetap berangkat. Sekalipun ragu menghinggapi warga desa, semua sudah diperhitungkan. Akhirnya hari pengarungan tiba.

Lariang_Jeram Ante-Up
Penari Jeram Rimba

Dibalik hari yang berjalan normal,  satu anggota menyadari bahwa debit air meningkat. Pada hari kedua, Ae Dikit mulai menampakkan wajah aslinya. Debit air semakin tinggi setelah malam menurunkan hujan.

Titik bahaya arung jeram terletak pada arus air yang dapat berubah sewaktu-waktu. Benar saja, sungai yang mirip selokan dengan permukaan kanan kiri tebing itu membuat anak-anak Mapala UI berjibaku memecah buih-buih air berwarna putih. Perahu karet Aire yang terkenal kokoh di air bergulung-gulung pun dibuat koyak dan terpental ke sana-sini. Perahu sempat terbalik beberapa kali. Bukan hanya fisik, mental pun dikuras banyak sekali oleh alam kala itu.

Pengarungan yang sejatinya selesai dalam empat-lima hari molor hingga tujuh hari. Tim pengarungan belum lagi sampai di section 2, bagian paling sulit di Ae Dikit yang mendapat perhatian khusus karena keberadaan air terjun dan jeram-jeram dengan kesulitan tinggi. Di sana pula zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat berada.

Tidak ada jalan keluar sekali tim perahu masuk ke sana. Akses menuju peradaban terdekat amat jauh. Butuh sekitar dua-tiga hari untuk mencapainya.

Kini tim sudah mulai terkuras banyak sekali tenaga. Ditambah wabah kutu air yang menyerang sebagian besar awak perahu. Pergerakan akan semakin sulit. Giliran tim darat yang berada di titik start dan finish yang merasa ragu, ditambah cemas. Tim pemantau di Depok tidak kalah cemas. Keraguan warga desa seakan menular hingga ke Kampus Universitas Indonesia.

Meneguhkan Diri Melintas Provinsi

Sekali dayung terkayuh, pantang perahu berbalik ke desa. Anak-anak muda Mapala UI menepis segala ragu. Dengan sisa tenaga dan semangat, mereka meyakinkan diri sekali lagi untuk menuntaskan perjalanan.

Korespondensi dengan tim darat hanya untuk mengabarkan bahwa mereka hendak melanjutkan perjalanan. Resiko sudah dihitung dan mereka menyatakan mampu.

Dalam waktu tiga hari, mereka tuntaskan pengarungan dengan membelah zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus melintas provinsi menuju Bengkulu. Total jarak tempuhnya 53 km dengan 3 section tersisa. Dayung-dayung mengayuh membawa perahu menepi di bawah jembatan penarik, titik finish pengarungan setelah 10 hari menari di jeram-jeram Ae Dikit.

Keberhasilan kerja tim demi menambah jelajah anak bangsa di tanah sendiri. Keberhasilan ini akan lebih berarti jika tim lain terpacu untuk memperluas daerah jelajah sehingga semakin banyak tabu tertepis. Demi kemajuan Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. (firman arif)

Similar Posts