Oleh: Aulia Rachmawati

POSO – Lariang berarti air yang mengalir cepat. Sungai yang mengalir melewati Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Barat ini adalah sungai terpanjang di Sulawesi.

Sobex Expedition adalah yang pertama kali ‘membuka jalur’ arung jeram di Sungai Lariang. Kegiatan yang dilakukan pada akhir 1980-an itu kemudian diikuti oleh Aranyacala Trisakti pada 1995, dan tim ekspedisi dari Mapagama Universitas Gajah Mada pada 1999. Dua tahun kemudian, Mahitala Universitas Katolik Parahyangan juga berkesempatan menjajal jeram- jeram Lariang.

Lining-Ace
Foto : Dok. Daniel Siregar/ Mapala UI

Sejak 2001, belum ada lagi pengarungan di Sungai (uwai) Lariang yang tercatat, hingga Mapala UI melakukan kegiatan arung jeram sekaligus pemetaan jeram di Sungai Lariang pada 2014 lalu.

Mengarungi Uwai Lariang, sungai yang berbatasan langsung dengan wilayah Taman Nasional Lore Lindu, tim ekspedisi Mapala UI yang terdiri dari dua belas orang dalam dua perahu karet menghabiskan waktu empat hari. Memulai pengarungan dari Desa Gintu di Kabupaten Poso, pada 28 Februari 2014, tim berhasil mencapai exit point di Desa Gimpu, Kabupaten Sigi, pada 3 Maret 2014.

Rute pengarungan Gintu-Gimpu, sepanjang 53 kilometer, dipilih karena dianggap paling menarik untuk diarungi. Dalam section ini terdapat satu wilayah yang dikenal dengan nama Mahaba (daerah paling bawah dalam peta yang menyerupai huruf “U”). Mahaba menjadi section paling krusial karena sungai mengalami penyempitan akibat adanya tebing yang membatasi kanan dan kiri sungai dan hal tersebut akan semakin menyulitkan awak perahu jika harus melakukan evakuasi.

“Sewaktu memulai pengarungan, kondisi sungai tergolong surut”, kata Sany Ustman, salah satu awak perahu. Lariang memang dikenal sebagai sungai yang stabil hampir di sepanjang tahun. Meskipun surut, jeram-jeram pembuka seperti Ante-up, Cut, dan Deal cukup ‘menghibur’ para awak perahu. “Di hari kedua debit air meningkat karena hujan di hulu sungai, air jadi lebih coklat, dan salah satu perahu karet merk Aire yang digunakan tim mengalami kebocoran.” lanjutnya. Beruntung tim sudah menyiapkan diri dengan perkakas penambal perahu.

jERAM aCE
Foto : Dok. Daniel Siregar/ Mapala UI

Setelah proses penambalan selesai, tim melanjutkan pengarungan dan langsung disambut oleh jeram Ace, jeram pembuka di wilayah Mahaba. Diskusi alot sempat berlangsung karena sebagian dari tim ingin merasakan sensasi drop (penurunan dasar sungai) dan hole (arus yang tertahan batu) yang memenuhi jeram yang digadang-gadang sebagai jeram terbesar di Lariang, sedangkan penanggung jawab teknis pengarungan, Kurniadi, lebih mengutamakan keselamatan tim. Proses lining (mengulur perahu karet dengan tali dari tepi sungai) pun menjadi solusi untuk melewati jeram Ace.

Setelah perahu pertama di-lining hingga ke ujung jeram, perahu kedua diizinkan untuk melewati jeram Ace, setelah sebelumnya dilakukan lining hingga setengah jeram. Hari ketiga menjadi hari terakhir tim di wilayah Mahaba. Jeram King yang dipenuhi standing wave (arus yang membentuk ombak besar), jeram Queen, jeram sepanjang 400 meter dan merupakan jeram terpanjang di section Mahaba, serta jeram Jack berhasil dilewati tim tanpa melakukan lining.

Memetakan Jeram Untuk Wisata Jeram Lariang

Foto : Dok Daniel Siregar/ Mapala UI
Foto : Dok Daniel Siregar/ Mapala UI

Kelancaran tim mengarungi Lariang tidak lepas dari proses pemetaan jeram yang dilakukan sesaat sebelum pengarungan dimulai. Peta jeram Sungai Lariang memang menjadi salah satu tujuan dilakukannya ekspedisi arung jeram ini. Minimnya informasi sebelum melaksanakan ekspedisi membuat tim bersikukuh menghasilkan ‘suatu informasi’ tentang sungai ini.

Proses pemetaan jeram tidak selalu mudah. “Saya dan teman yang bertugas memetakan jeram sempat repot karena harus berpindah tempat menyusuri sungai untuk melihat jeram dengan lebih jelas.” tutur Sany. Jeram-jeram Sungai Lariang yang terpetakan diharapkan bukan hanya menjadi informasi bagi mereka yang gemar melakukan white water sport, tapi juga sebagai bahan pertimbangan bagi pengelola daerah setempat untuk menjadikan Uwai Lariang sebagai lokasi wisata arung jeram yang bisa dinikmati berbagai kalangan.

Menuju Lariang

Similar Posts