JONGGOL – Berakhir sudah. Diawali rasa kaku di kedua paha. Sepeda saya hentikan. Turun menjejak tepi jalan raya Jonggol Cianjur. Saat kedua kaki menjejak, terasa seperti tertanam di tanah. Teringat tiang-tiang beton penyangga jalan yang sekarang banyak didirikan di Jakarta. Kaki kiri maupun kanan tidak bisa maju sesenti pun. Sakit dan kaku.

Saya pernah naik gunung, pernah arung jeram, suka olahraga. Sepeda touring pun pernah, 30tahun lalu. Ketika Djani mengajak touring ke Bandung melalui Jonggol, imajinasi saya malah berkembang. Touring sepeda dari ujung utara Eropa sampai ujung selatannya. 6.000kilometer lebih. Saat diajak berlatih sepedaan di kawasan Bintaro hingga ke Serpong, rasa percaya diri makin bangkit. Djani teman saya bersepeda 30tahun lalu, sudah setahun lebih menekuni kembali bersepeda. Di Serpong kami bersama teman-teman Djani yang sudah lama menekuni sepedaan.

Iis bahkan pernah touring ke Korea Selatan dan Jepang. Coba simak saja blog nya: www.sy66travel.com. Dan kala itu saya tidak terlalu jauh tertinggal mereka. Ketika itu untuk tiga kalinya saya berlatih sebelum ke Bandung. Pertama 20km, kedua 40km, dan ketiga kalinya itu sekitar 15km mungkin.  Semua jalan datar. Ketika berlatih tidak ada tanda-tanda kram. Hanya saja saat mengayuh 40kilometer pulang balik tempat kerja, seorang bapak tua sore-sore menyusul saya dengan sepeda tanpa gigi tambahan. Perlahan bapak yang nampak setiap hari bersepeda, menghilang jauh di depan saya. Mustinya itu sudah menjelaskan kelas saya dalam touring. Mualaf.

Kami berangkat pada 28 Juli 2017. Djani dan Iis dari Bintaro dan Iwan dari kawasan Kebayoran Baru, bertemu saya di Cibubur, hanya kurang dari 10kilometer dari rumah saya. Teman-teman sudah lebih dari 20kilometer mencapai Cibubur, mereka tampak segar.

Kami pun mulai melaju sekitar pukul 7 pagi. Melalui Transyogi melewati Taman Buah Mekarsari. Terus menepi disusul motor, mobil, dan yang sedikit menakutkan truk dan mobil boks. Di Jonggol kami jeda sejenak berkumpul. Saya berusaha mengikuti Iwan, yang baru saya kenal. Djani menjelaskan Iwan ini pengayuh yang kuat. Dan terbukti benar, tidak bisa lama saya melihat punggung Iwan, lebih cepat dari bapak tua yang menghilang saat saya berlatih, Iwan sekejap sudah hilang dibalik tanjakan.

Kami sudah lewat jembatan Cipamingkis yang masih tertutup karena perbaikan akibat longsor. Tersedia jembatan darurat, jembatan Bailey, karya tentara Inggris untuk Perang Dunia II dan sekarang menjadi standar jembatan darurat. Kami bisa mengayuh lewat, walau harus turun ke lembah sungai dan kembali menanjak di seberangnya.

Saat siang, adzan dzuhur berkumandang, tanda sholat Jumat. Kebetulan saya berada di Cariu di jembatan menyeberang Cibeet. Setelah Jumatan itu mulai tanjakan ke Puncak Pinus titik tertinggi di jalan ke Bandung melalui Jonggol.

bersepeda ke bandung
Adiseno bersama Iwan saat diangkut pickup. Sampai di Bandung, Iis dan Iwan masih melanjutkan bersepeda wisata kota Bandung. (adiseno)

 

Seminggu sebelumnya saya mengajar pemandu gunung di Padang Aro, Solok Selatan, Sumatera Barat. Pelatih tali temali dan panjat tebing, Virgo Dirgantara, pemandu gunung dari Consina Outdoor Services. “Saya sudah pernah lewat situ mas,” jelas Virgo ketika saya ceritakan niat saya. “Ikut truk aja mas dari samping, mereka juga udah ngerti kok.” Anjuran ini saya ikuti. Dua kali saya hitchride’, mungkin ini istilahnya, ke truk yang sedang ngotot menanjak dengan gigi satu. Di kaki memang ringan, tetapi berat di tangan kanan yang harus pegangan rangka bak truk. Pertama truk pengakut kayu, kedua truk pasir. Dua kilometer lebih saya ‘curang’, menurut hardcore touring bikers.

Itu pun tidak menolong. Tidur di tepi jalan pun tidak membantu. Duduk istirahat di Warung Nasi Puncak Pinus, makan pisang, minum Pocari Sweat, makan nasi sup daging, semua tanpa daya. Begitu saya melanjutkan dan ketemu tanjakan gradien rendah menuju Cikalong, kaki saya kram. Teman-teman pun menyewa pickup dan balik menjemput saya. Pesepeda terakhir, tetapi semoga bukan akhir dari petualangan saya. Kan Eropa masih menanti. (ads)

Foto utama: Iis saat menyeberangi jembatan Bailey yang dipasang darurat untuk membantu melintasi Cipamangkis. (adiseno)

Similar Posts