Ekspedisi Ae Dikit Mapala UI.

Tim Mapala Universitas Indonesia memilih Ae Dikit, sungai yang tidak pernah diarungi perahu karet. Mereka melakukan penjelajahan sungai dengan mengirimkan tim survey darat, baru kemudian melaksanakan pengarungan. Sebelumnya Outdoor Cafe Indonesia sudah memberitakan kegiatan survey darat. Berikut ini Firman Arif menuliskan kisah tim ekspedisi Ae Dikit Mapala UI dalam tiga tulisan.

Menunggu Dering Telepon Orangtua

Oleh : Firman Arif

JAKARTA – Mengantar teman-teman sendiri untuk melakukan sebuah perjalanan adalah hal yang menyesakkan bagi saya yang juga hobi jalan-jalan. Melihat koper-koper berat mereka menghilang bersama punggung mereka ditelan kendaraan rasanya membuat hati sedikit ngilu. Tapi tetap ada alasan untuk mengantar sembari memberi doa untuk kesuksesan perjalanan. Bagi saya, ucapan semoga berhasil dari seorang teman sangat berarti sekali. Apalagi diucapkan ketika teman hendak pergi menggapai tujuannya.

Segera setelah mereka berangkat, aktivitas akan berjalan seperti biasa. Dengan tambahan menunggu kabar dari mereka. Kali ini, pekerjaan itu bertambah lagi. Saya harus menerima telepon dari orangtua yang menanyakan kabar anaknya. Perjalanan atas nama organisasi memang perlu mewadahi hal-hal semacam ini. Teman-teman kita juga milik orangtua mereka

Ketika tim ekspedisi Ae Dikit memulai pengarungan, kabar keluar masuk sangat normal. Tapi mulai berbeda ketika lewat hari keenam. Satu per satu orangtua mulai menelpon ke sekretariat. Siapapun yang berada di sekretariat wajib hukumnya mengangkat telepon yang berbunyi, karena kadang hal penting ada di balik dering telepon itu. Saya adalah orang yang bermalam di sana, maka saya harus menjalankan kewajiban itu.

Saat itu memang sudah akan masuk masa perkuliahan. Wajar bila orangtua bertanya-tanya. Saya yakin tidak semua tim mengatakan secara utuh apa yang akan mereka lakukan kepada orangtuanya. Termasuk kegiatan apa dan sampai kapan. Ini saya tahu setelah orangtua yang menelpon menanyakan kapan mereka akan pulang dan apa yang sedang mereka kerjakan.

Setiap pagi, sore hingga malam telepon kerap berdering. Orangtua silih berganti menghubungi. Beragam pula respon mereka. Saya dapat merasakan perasaan dibalik suara orangtua teman-teman saya ini. Perasaan kasih sayang yang tulus dibalut kecemasan dan rasa ingin tahu kabar dari anak-anaknya.

Saya mempersilakan teman lain mengangkat telepon ketika kabar dari tim perahu tidak kunjung datang. Sekalipun saya dapat menjelaskan kapan kabar dapat diterima. Tapi saya tidak ingin perasaan saya menjalar menuju orangtua. Apalagi waktu sudah lewat hampir dua kali lipat dari yang dijanjikan oleh teman-teman. Penjelasan macam apa lagi yang dapat meyakinkan orangtua?

Menjadi tim support keluar masuknya informasi di sekretariat harus banyak bersabar. Entah bersabar menunggu kabar datang, atau memberi kabar kepada orangtua bahwa semua dalam keadaan baik. Bahkan harus rela sabar ketika teman yang dalam perjalanan tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sekalipun kondisinya amat berbahaya, baik secara matematis maupun secara intuisi. Namun keputusan mereka harus tetap dihormati, sambil harap-harap cemas dan menyiapkan segala sesuatu ketika hal-hal di luar perkiraan sekiranya terjadi.

Perasaan cemas yang saya rasa berharga untuk melatih setiap rasa dalam diri seorang manusia. Hitung-hitung latihan untuk manusia yang nanti akan sering ditinggal oleh orang-orang sekitar dan pada saatnya nanti juga akan meninggalkan yang lain.

Foto utama: Pemetaan sungai untuk menetapkan pengarungan yang aman (dok.mapala ui)

Similar Posts