Ekspedisi Ae Dikit Mapala UI.

Tim Mapala Universitas Indonesia memilih Ae Dikit, sungai yang tidak pernah diarungi perahu karet. Mereka melakukan penjelajahan sungai dengan mengirimkan tim survey darat, baru kemudian melaksanakan pengarungan. Sebelumnya Outdoor Cafe Indonesia sudah memberitakan kegiatan survey darat. Berikut ini Firman Arif menuliskan kisah tim ekspedisi Ae Dikit Mapala UI dalam tiga tulisan.

Rintangan Tabu Kepercayaan Warga

Oleh : Firman Arif

JAKARTA – Ketika kita masukkan kata kunci Ae Dikit pada mesin pencari paling populer, Google pada Januari lalu, tidak banyak yang kita dapat. Tidak sampai hitungan jari segala sesuatu yang berkaitan dengan Ae Dikit muncul di laman mesin pencari yang diklaim mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Kesulitan macam itulah yang harus dihadapi tim Mapala UI yang hendak ke sana. Ae Dikit bukan sungai yang populer. Apalagi untuk olahraga memecah jeram dengan perahu karet. Belum ada tim yang mencobanya. Tapi, justru itulah salah satu tujuan memilih Ae Dikit. Perjalanan menjelajah negeri sendiri demi kepentingan kemanusiaan serta demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak mesti soal rekor yang harus dipecahkan.

Ketiadaan informasi tentang Ae Dikit pada mesin pencari semakin jelas setelah tim sampai di desa paling dekat dengan Ae Dikit. Mereka adalah marga Serampas yang mendiami desa Renah Kemumu, Jambi. Mereka juga yang sehari-hari sering wara-wiri Ae Dikit, seperti ketika hendak berburu babi hutan di dalam rimba Sumatera. Mereka masih terisolir, sinyal telepon pun nihil.

Dalam setiap perjalanan, warga sekitar adalah informan yang paling terpercaya guna menghimpun segala informasi demi menunjang kesuksesan perjalanan. Oleh karena itu anak-anak Mapala UI bercengkrama dengan warga desa ini.

Selimut Tabu dan Doa Keselamatan

jERAM aCE
Foto: Dokumentasi Daniel Siregar/ Mapala UI

Suasana tabu menyelimuti warga desa ketika tim Mapala UI bercerita mengenai maksud kedatangannya. Banyak sungai yang lebih besar dari Ae Dikit, tapi mereka lebih takut ketika melintas Ae Dikit. Bahkan warga desa mensakralkan Ae Dikit sebagai sungai yang perlu dijaga. Warga Desa tidak tahu jika Ae Dikit bisa diarungi dengan perahu karet.

Keraguan dan rasa tabu warga desa Renah Kemumu harus dipahami sebagai rasa kasih sayang sesama manusia ketika mendengar rencana orang lain yang mereka rasa dapat membahayakan. Bukan hendak menggagalkan rencana. Keraguan dan rasa tabu itu terus hinggap hingga menjelang tim Mapala UI berangkat di titik start. Pemuda desa terus bertanya apakah anak-anak Mapala UI ini telah siap dan yakin dengan rencananya. Akumulasi ragu tercermin ketika ketua tim ekspedisi, Teguh Iman dan beberapa anggota lain harus mengikuti ritual serta pembacaan doa di pinggir sungai demi keselamatan mereka hingga akhir. (firman arif)

Foto utama:  Tim Mapala Universitas Indonesia mengibarkan panji kebanggaan. (dok. mapala ui)

Similar Posts