pendidikan dasar wanadri

JAKARTA – Organisasi pencinta alam kemudian tumbuh subur di perguruan tinggi, bahkan hingga ke tingkat sekolah menengah. Hal itu tidak lepas dari semakin populernya kegiatan mendaki gunung dan kegiatan alam bebas lainnya. Kepopuleran aktivitas petualangan tidak bisa dilepaskan dari mulai banyaknya kiprah petualang Indonesia yang menjelajah hingga ke luar negeri. Sebut saja Wanadri dengan perjalanannya ke Kangchenjunga, tim Putri Alpen Indonesia ke 5 puncak tertinggi Eropa, penjelajahan kelompok Jayagiri ke Mont Blanc dan Matterhorn, pemanjat Skygers ke Eiger, atau Mapala UI yang mulai berusaha mencicil proyek seven summits.

Gegap-gempita petualangan dan munculnya kelompok-kelompok itu sejalan dengan kebutuhan untuk merekrut anggota baru. Setiap kelompok memiliki dinamikanya sendiri, sehingga proses regenerasinya pun berbeda-beda. Dapat dikatakan, kelompok-kelompok yang baru muncul mengadopsi cara kelompok terdahulu untuk merekrut anggota, tentu dengan berbagai penyesuaian karena berbagai pertimbangan. Di sinilah letak keberagaman proses perekrutan anggota pencinta alam, atau keberagaman pendidikan dasar menemui titik persimpangannya.

Cara-cara lama juga masih lekat digunakan. Bahkan cara-cara yang digunakan ketika masa perjuangan dan revolusi, ketika organisasi paramiliter yang disiapkan sebagai pasukan cadangan di Indonesia juga masih digunakan. Hal ini harus dipahami karena memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Artinya, cara mendidik yang ditentukan tidaklah benar-benar baru sama sekali, pasti ada adopsi dari hal yang sudah ada. Tinggal menghubungkan dan mencari benang merahnya. Pada akhirnya organisasi pencinta alam memang tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia itu sendiri.

Serba-serbi Pendidikan Dasar: Dari Hukuman Hingga Mentoring

Wanadri, yang sudah menetapkan bahwa pendidikan dasar ditujukan untuk mendidik karakter siswa, tidak main-main dalam mempersiapkan pendidikan dasarnya. Terhitung persiapan dilakukan selama satu tahun sebelum penyelenggaraan. Standar operasional prosedur ditetapkan, pelatih dan elemen lain dipersiapkan. Alisar menuturkan bahwa tidak semua anggota Wanadri bisa menjadi pelatih. Ada standar yang harus dicapai, selain itu yang tak kalah penting, kemampuan untuk menyampaikan materi di depan siswa juga dipertimbangkan. Jam terbang mengajar menjadi sangat penting. Selain itu, ada yang di Wanadri, yakni adanya Tim Tata Tertib. Tim ini memiliki kewenangan yang sangat luas, baik terhadap siswa, maupun terhadap anggota Wanadri yang menjadi “tamu” di dalam kegiatan pendidikan dasar. Aturan mainnya sangat jelas, jika anggota Wanadri melanggar, bahkan jika pelatih juga melanggar, Tim Tata Tertib (Tatib) berhak mengeluarkan mereka dari proses pendidikan.

pendidikan dasar wanadri
Gaya a la militer diadopsi menjadi gaya Pendidikan Dasar Wanadri (sumber: Buletin FPTI edisi Mei-Juni 1993).

Cara Wanadri mendidik yang lekat dengan gaya militer dirasa berat bagi sebagian orang, terutama yang tidak terbiasa. Maka biasanya ada saja siswa yang mengundurkan diri dari proses pendidikan. Tapi, hal itu tidak ada apa-apanya dibanding alam yang sangat berbahaya. Semua yang dilakukan di dalam pendidikan dasar di Wanadri memiliki dasar, terutama untuk menekan bahaya yang datang dari luar (objektif) maupun bahaya yang datang dari dalam diri (subjektif). Pelatih-pelatih Wanadri juga dikenal karena memiliki latar belakang keahlian di bidangnya. Sehingga, apapun yang dilakukan pasti sangat berdasar. Di dalam Buletin FPTI yang terbit pada 1993 disebutkan bahwa pelatih-pelatih Wanadri seperti Teddy Kardin, atau Iwan Abdurrahman memiliki cara menghukum yang khas. Hukumannya memang menyerempet fisik, tapi terukur, dan mereka memiliki keahliannya. Tetapi, yang lebih penting dari itu, mereka menghukum untuk mendidik, bukan karena emosi atau atau dendam. Hukuman dari hati yang dilakukan dengan tulus.

Namun, ada kalanya hukuman tak dilakukan dengan kekerasan. Alisar mengungkapkan bahwa menghukum yang terpenting harus tulus untuk niat mendidik. Selain itu, hukuman harus dilakukan dengan dasar. Hal itu berarti banyak cara melakukan hukuman yang justru menanamkan nilai penting bagi siswa. Alisar mencontohkan saat dirinya menjadi Tim Tatib dan mendapati siswa yang melanggar kesepakatan, yakni minta izin untuk ke kamar mandi tetapi tidak ada teman siswa yang mau menemani. Paginya, Alisar memanggil seluruh siswa dan dihadapan mereka, Alisar menghukum “mental” serta sikap para siswa. Alisar mengungkapkan apa yang terjadi dan bertanya kepada siswa apakah teman yang melanggar masih pantas untuk dipertahankan. Dari sana, muncul “pukulan telak” kepada pikiran siswa. Alisar ingin menanamkan nilai kebersamaan dalam diri siswa. Sebab, semua kegiatan alam bebas tidak bisa dilakukan sendirian. Jika untuk hal-hal sederhana saja tidak ada yang mau menemani, bagaimana dengan aktivitas berbahaya yang sangat beresiko?

Sementara Mapala UI di lain sisi baru membakukan bentuk pendidikannya pada 1982. Ada badan khusus yang dibentuk untuk mengurusi perekrutan hingga pelantikan. Sebutan untuk mereka adalah tim kecil. Segala hal yang berhubungan dengan pendidikan dasar menjadi kewenangan tim kecil. Materi diberikan seperti perkuliahan berlangsung menyesuaikan dengan jadwal kuliah mahasiswa. Tahapannya berjenjang, baik dari materi hingga tingkat kesulitan. Satu hal yang tetap dalam proses pendidikan dasar di Mapala UI adalah keberadaan mentor. Keberadaan mentor adalah ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan dasar di Mapala UI. Mentor adalah garda depan pendidikan dasarnya.

Tak semua orang dapat jadi mentor. Ada standar yang ditetapkan hingga seseorang dapat menjadi mentor. Serangkaian pelatihan juga harus diikuti sebelum mentor terjun ke dalam pendidikan dasar. Selain itu, mentor pun masih dibagi berdasarkan tingkat keahlian dan kewenangan. Pembagiannya antara lain mentor ahli yang berhak memberikan materi dan melakukan penilaian terhadap calon anggota, mentor madya yang bertugas untuk memastikan seluruh materi diterima serta dipahami oleh calon anggota (biasanya juga menjadi tim panitia jalan saat praktik), serta mentor pendamping yang akan mendampingi kelompok kecil calon anggota dan mendampingi selama proses pendidikan, mendengar keluh kesah calon anggota, hingga membantu calon anggota untuk urusan yang personal.

Proses mentoring semacam inilah yang digunakan untuk membangun kedekatan serta solidaritas di antara calon anggota dan anggota. Kedekatan dibangun sejak awal karena semangat merekrut anggotanya adalah mencari teman jalan untuk bergiat bersama. Sementara kewenangan untuk melakukan hukuman ada di tangan Komisi Disiplin sebagai bagian dari tim kecil. Tak hanya calon anggota, tapi juga untuk anggota yang dirasa melakukan pelanggaran sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Setiap anggota yang datang menjadi tamu selama pendidikan harus melapor kepada tim kecil untuk dijelaskan kewajiban dan kewenangan. Saran, masukan, hingga usul untuk mengubah sesuatu harus disampaikan kepada tim kecil, khususnya kepada komisi disiplin.  (firman arif) – bersambung

Similar Posts