paralayang pon xix

Oleh : Aulia Rachmawati

JAKARTA – Sejak darat dan air mulai terjamah manusia, udara menjadi ruang kosong selanjutnya yang menantang untuk dijelajahi. Bukan sekedar menjelajah dengan burung besi, tapi menggunakan alat yang langsung terhubung ke tubuh seakan-akan kitalah yang punya sayap. Paralayang menjadi jawabannya. Olahraga ini mengandalkan payung (sebutan untuk parasut) yang terhubung dengan banyak tali untuk mengendalikan arah parasut dan memiliki tempat duduk untuk pengemudi.

Tidak bisa sembarangan untuk mencoba olahraga ini. Ada kriteria berat badan minimal dan teknik-tenik tertentu yang harus dikuasai. Terbang tandem dengan pilot yang berlisensi untuk terbang tandem adalah pilihan termudah untuk mencoba paralayang. Kira-kira 15 sampai 30 menit berputar-putar di udara dengan biaya beberapa ratus ribu rupiah. Akan berbeda lagi ceritanya kalau ingin ‘terbang sendiri’. Untuk bisa terbang sendiri sampai punya surat izin atau lisensi, ada ‘sekolah’ paralayang. Bahkan dengan pengetahuan nol sama sekali tentang olahraga ini bisa menjadi siswa sekolah paralayang. Juga jangan khawatir dengan usia, karena paralayang termasuk olahraga tanpa batasan usia maksimal.

paralayang_satya2
Instruktur membantu proses ‘pilot check’ sebelum take off (Inframe: Satya Winnie)

Butuh 40 kali terbang untuk mendapat lisensi PL-1 atau pilot tingkat satu. Siswa akan diajak ground handling beberapa hari supaya lancar menarik dan membuka payung dan inilah latihan yang paling melelahkan menurut beberapa siswa paralayang. Lalu dilanjutkan tandem flight dengan instruktur. Saat tandem flight, toggle (tali untuk mengendalikan parasut/payung) diperpanjang agar siswa bisa belajar mengendalikan payungnya sendiri sambil mendengarkan arahan dari instruktur. Setelah tandem, siswa akan dibiarkan terbang sendiri dan disinilah komunikasi via radio atau handie talkie (HT) berperan penting.

Bagi Satya Winnie (24), sejak pertama kali belajar paralayang pada pertengahan 2014, komunikasi selama terbang selalu diandalkanya. Selain untuk mengendalikan payung hingga landing, komunikasinya dengan instruktur selama terbang juga berfungsi untuk mengurangi rasa nervous karena dirinya phobia ketinggian. “Sewaktu terbang tandem dengan instruktur, landing-nya jelek meskipun tidak luka sama sekali. Sempat deg-degan waktu mau terbang sendiri,” cerita Satya sewaktu ditanya tentang pengalaman first jump-nya. “Jadi waktu mau coba terbang sendiri modalnya ya mengerti setiap instruksi instruktur dari HT dan percaya saja bahwa dibawah (arahan) instruktur kita pasti aman.” Pernah suatu kali ia mengambil foto selfie saat terbang dan sesaat setelah landing langsung ditegur keras oleh instruktur lain yang melihatnya melakukan hal yang cukup berbahaya itu. Tentu saja bahaya karena posisinya saat itu masih siswa yang baru 10 kali take off dan yang dilakukannya itu bisa saja membuatnya tidak fokus mendengar arahan instruktur.

Komunikasi saat terbang bukan hanya dilakukan saat masih berstatus ‘belajar terbang’. Setelah berhasil dapat lisensi, komunikasi via HT saat terbang tetap dilakukan. Thermal atau cuaca biasanya menjadi topik utama sampai penerbang landing. Yang tidak kalah penting dari komunikasi tentu saja tingkat fokus saat akan dan sedang terbang. ‘Keasikan’ berkomunikasi terkadang bisa membuat penerbang jadi salah fokus. Salah fokus saat akan atau sudah terbang bisa berakibat buruk, mulai dari sekedar nyelup (jatuh ke area di luar wilayah landing) hingga patah tulang.

Ina Diana (25) yang sempat nyelup ke wilayah kebun teh di Puncak, Jawa Barat, yang jadi lokasinya berlatih paralayang, harus mendapat beberapa jahitan di kepalanya. Penyebabnya? Tidak fokus saat melakukan take off. Padahal saat itu ia telah mengantongi lisensi PL-1. “Tidak fokus jadi salah tarik toggle, akibatnya payung tidak berkembang dengan sempurna,” jelasnya. “Waktu awal terbang, kita (siswa) diberi instruksi dan instruktur pasti hati-hati, jarang ada kesalahan instruksi. Biasanya kalau sudah terbang sendiri dan tidak dapat instruksi baru pada jatuh. Itu tadi, karena kurang fokus. Tetap fokus meskipun sudah tidak ada instruksi itu penting banget,” tambah Ina.

Sebagai olahraga yang melibatkan dua tempat, darat dan udara, penggunaan alat komunikasi menjadi hal yang vital dalam paralayang. Berkomunikasi dengan tim di darat memang seharusnya menjadi pengimbang fokus saat akan dan sedang mengendalikan payung di udara. Terbiasa ‘fokus’ mendengar instruksi saat belajar terbang pun pada akhirnya memang harus bergeser menjadi fokus memberi instruksi ke diri sendiri.

Similar Posts